Category Archives: kursus arduino

  • 0

4. Eksperimen dengan Pin PWM Arduino Ardublock

4. Eksperimen dengan Pin PWM

Bab ini memberikan pengantar tentang pin-pin digital dalam ardublock. Kemudian, pengertian pin PWM dijelaskan sebelum contoh-contoh aplikasi pin PWM diberikan.

4.1 Pemahaman Pin Digital  

Arduino Uno mengandung 13 pin digital sebagaiynana diperlihatkan pada Gambar 4.1. Namun, pin 0 dan pin 1 digunakan secara khusus oleh Arduino, sehingga kedua pin ini jarang digunakan. Dalam eksperimen-eksperimen yang dilakukan di Sepanjang buku ini, kedua pin tersebut memang tidak digunakan.

Gambar 4.1 Letak pin-pin digital

Lalu, apa yang dimaksud dengan pin digital? Pin digital adalah pin yang nilainya erupa nilai digital. Artinya, nilai yang digunakan hanyalah 0 atau 1. Nilai 0 menyatakan tidak ada isyarat dan nilai 1 menyatakan ada isyarat. Nilai 0 sesungguhnya diwakili oleh tegangan 0Vdan nilai 1 diwakili oleh tegangan 5V. Secara khusus, nilai 0 dapat dinyatakan gan konstanta LOW dan nilai 1 dapat dinyatakan dengan HIGH. Nilai LOW itu dapat ayangkan seperti ketika kita tidak mengalirkan listrik dan HIGH dapat diibaratkan gai keadaan ketika kita mengalirkan arus, sehingga lampu bisa menyala.

Gambar 4.2 Isyarat digital

 4.2 Pemahaman Pin-Pin PWM  

Pulse-Width Modulation (PWM) adalah suatu cara yang memungkinkan suatu pin digital dijadikan sebagai pin analog. Sebagai pin analog, pin-pin digital yang semula hanya bisa bernilai 0 atau 1 bisa diubah tnenjadi bernilai bulat yang berkisar dari 0 hingga 255. Mungkin Anda penasaran, “untul< apa pin cliberi nilai yang variatif seperti itu?”. Jawabannya adalah melnungkinkan untul< Inelal(tlkan hal-hal sepertj berikut:

  • mengatur intensitas cahaya LED, tidal( sekadar hiclup dan mati;
  • menentukan kecepatan motor DC.

Arduino Uno tnenyediakan 6 pin P WM. Keenam pin tersebut adalah pin 3, 5, 6, 9, 10, dan 11 (lihat Gambar 4.3). Masing-masing ditandai dengan simbol ~

Gambar 4.3 Pin-pin PWM

4.3 Eksperimen Pengaturan Intensitas LED 

Intensitas LED dapat diatur sekiranya LED dihubungkan ke pin PWM. Nah, untuk mempraktekkannya, silakan untuk menyusun rangkaian seperti terlihat pada Gambar 4.4. Pin PWM 9 digunakan untuk mengontrol LED.

Gambar 4.4 Rangkaian untuk pengaturan intensitas LED

Berikut adalah langkah untuk menyusun dan menguji proyek ArduBlock:

  1. Bukalah sketsa bernama temporer di Arduino IDE, jika masih dalam keadaan tertutup.
  2. Buatlah proyek baru di ArduBlock dengan nama intensitas . abp. Isinya seperti yang terlihat pada Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Blok untuk percobaan pengaturan intensitas LED

  1. Klik pada tombol Upload to Arduino
  2. Perhatikan efek pada LED.

proyek intensitas menggunakan blok set- analog. Blok ini terdapat di laci  Kegunaannya adalah untuk menentukan nilai di pin argumennya dengan suatu nilai antara 0 dan 255. Pada proyek ini, terdapat tiga intensitas yang digunakan pada pin 9, yaitu nilai 255 (untuk membuat LED paling terang), 128 (intensitas tengah), dan 0 (untuk mematikan LED). Keadaan intensitas masing-masing diatur selama 1000 milidetik (1 detik).

4.4 Pembuatan LED yang Seperti Membara 

Eksperimen berikutnya masih menggunakan rangkaian seperti yang terlihat di Gambar 4.4. Namun, blok yang berbeda akan digunakan untuk membuat kesan LED yang sedang membara.

Berikut adalah langkah untuk menyusun dan menguji proyek ArduBlock untuk kepentingan tersebut:

  1. Bukalah sketsa bernama temporer di Arduino IDE, jika masih dalam keadaan tertutup.
  2. Buatlah proyek baru di ArduBlock dengan nama membara . abp. Isinya ditunjukkan pada Gambar 4.5

Gambar 4.5 Blok untuk membuat LED seperti membara

 

  1. klik pada tombol
  2. Perhatikan efek pada LED.

Proyek ini menggunakan blok untuk memperoleh bilangan acak bulat antara 0 hingga 160. Blok set integer variable diperoleh melalui laci . Blok diperoleh pada laci . Blok diperoleh di laci   .

Argumen kedua pada set analog pin berupa blok  .

Blok ini terdapat pada laci .Bagian kiri diisi dengan blok yang diambilkan dari laci dan bagian kanan diisi dengan blok yang juga diambil dari laci  .

Dengan demikian, nilai yang diberikan ke pin 9 akan berupa nilai analog yang berkisar dari 95 hingga 255.

Dengan melakukan penundaan selama 200 milidetik setelah nilai dikirim ke pin 9, perubahan nilai pada pin tersebut akan membuat LED seperti membara.

 

 

 

 


  • 0

3. Eksperimen Pertama Pemrograman Arduino dengan Ardublock

3. Eksperimen Pertama Pemrograman Arduino dengan Ardublock

Bab ini membahas mengenai eksperimen dengan ArduBlock, dari cara menyusun blok hingga mengunggahnya ke Arduino secara details dan lengkap. Dasar-dasar mengenai komponen-komponen yang diperlukan juga ikut dijelaskan.

3.1 Persiapan Perkakas Kerja 

Untuk keperluan mempraktikkan eksperimen pertama, bahan-bahan diperlukan berikut :

  1. Satu breadboard.
  2. Satu resistor 2200.
  3. Satu LED merah.
  4. Dua kabel Dupont lelaki-lelaki.

Tidak perlu khawatir jika Anda belum akrab dengan bahan-bahan tersebut. Pengenalan terhadap masing-masing akan diberikan.

3.2 Kabel Dupont 

Kabel Dupont adalah kabel yang di kedua ujungnya dilengkapi dengan bagian yang memudahkan untuk dihubungkan ke komponen Iain. Tiga jenis kabel ini dicantumkan di Tabel 3.1. Ketiga jenis ini diperlukan dalam berbagai percobaan. Namun, untuk percobaan pertama, hanya jenis lelaki-lelaki yang diperlukan.

Tabel 3.1 Daftar jenis kabel Dupont

3.3 Breadboard 

Breadboard adalah papan dengan banyak lubang yang berguna untuk melakukan percobaan dalam merangkai komponen-komponen elektronika tanpa harus melakukan penyolderan. Contoh breadboard diperlihatkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Breadboard

Pada lubang-lubang itulah, kaki-kaki komponen atau kabel ditancapkan dengan tujuan untuk menyusun suatu rangkaian. Namun, sebelum Anda mencoba untuk mempraktikkannya, Anda perlu memahami hubungan antar lubang terlebih dahulu karena sejumlah lubang sebenarnya sudah saling terhubung.

Bagaimana hubungan antar lubang di breadboard? Mudah saja untuk memahaminya. Gambar 3.2 akan menunjukkan hubungan antar lubang pada breadboard yang ditunjukkan pada Gambar 3.1. Lubang-lubang yang dinyatakan dengan suatu garis berarti bahwa secara internal lubang-lubang tersebut terhubung.

Gambar 3.2 Hubungan antar lubang dalam breadboard

3.4 Resistor 

Resistor (Gambar 3.3) adalah komponen yang ditujukan untuk membatasi arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Sebagai contoh, resistor digunakan untuk membatasi arus yang mengalir di LED agar LED tidak terbakar. Gambar 3.4 menunjukkan contoh

untuk keperluan ini. Dengan cara seperti itu, LED akan menyala tanpa terbakar karena arus yang mengalir dibatasi oleh resistor. Perlu diketahui, Gambar 3.4 adalah Perwujudan dari diagrarn sketnatis yang ditunjukkan pada Gambar 3.5.

Gambar 3.3 Resistor

 

Gambar 3.4 Resistor untuk membatasi arus yang mengalir di LED

Gambar 3.5 Diagram skematis untuk menyalakan LED

Besar hambatan atau biasa disebut resistansi suatu resistor dinyatakan dengan satuan ohm atau dinyatakan dengan simbol Tabel 3.2 menjelaskan makna warna gelang yang terdapat pada badan resistor, Adapun Gambar 3.6 memberikan contoh pembacaan nilai resistansi di resistor.

Table 3.2 Daftar warna gelang pada badan resistor

Gambar 3.6 Penerjemahan nilai resistansi di resistor berdasarkan warna gelang

Dalam praktik, satuan yang digunakan mungkin tidak dinyatakan dengan ohm saja, melainkan dalam bentuk kilo-ohm (K) atau mega-ohm (M). Dalam hal ini, hubungan antar satuan tersebut adalah seperti berikut:

1K = 10000

1M = 1000K = 1.000.000Ω

Untuk keperluan eksperimen pertama, resistor yang diperlukan adalah 220Ω. Tiga warna pertama adalah merah, merah, dan cokelat atau 22 x

3.5 LED 

Light Emitting Diode (LED) adalah komponen yang memancarkan cahaya kaki yang disebut anode terhubung ke tegangan positif dan kaki yang disebut katode terhubung ke tegangan positif. Gambar 3.7 akan memperlihatkan dan penggambaran di Fritzing (perangkat lunak untuk menggamba rkan rangka elektronis) yang sering digunakan dalam buku ini. Di Fritzing, kaki yang bengkok menyatakan anode. Pada LED nyata, kaki yang lebih panjang adalah anode.

Gambar 3.7 LED

3.6 Penyusunan Rangkaian 

Percobaan pertama yang akan dipraktikkan adalah memanfaatkan bahan-bahan yang telah dibahas untuk membuat LED berkedip-kedip dikendalikan oleh Arduino. Untuk keperluan ini, rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 3.8 perlu disusun terlebih dahulu. Dalam hal ini:

  • katode dihubungkan ke pin GND melalui kabel biru;
  • anode dihubungkan ke resistor 220Ω;
  • kaki lain resistor dihubungkan ke pin 12 melalui kabel merah.

 

Catatan

Kabel merah biasa digunakan untuk menyatakan tegangan positif dan kabel biru digunakan untuk menyatakan tegangan negatif.

Gambar 3.8 Penyusunan rangkaian untuk membuat LED berkedip-kedip

3.7 Pembuatan Sketsa Menggunakan ArduBlok 

Agar LED berkedip-kedip, sketsa yang mengendalikan hal itu perlu diunggah ke papan Arduino. Nah, sketsa ini dapat dibuat dengan menggunakan ArduBlock. Oleh karena itu, ArduBlock perlu dijalankan dengan cara memilih menu Tools, kemudian mengeklik pilihan ArduBlock. Sehingga, diperoleh tampilan seperti terlihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9 Antarmuka ArduBlock

 

Bagian kiri pada antarmuka ArduBlock terdapat sejumlah laci yang menyatakan kategori blok. Masing-masing mengandung banyak blok yang dapat digunakan untuk Menyusun sketsa. Berikut adalah gambaran singkat untuk bebrapa laci yang tersedia :

  • Control: Berisi struktur kontrol, seperti program, loop, if, dan while.
  • Pins: Berisi blok-blok yang berhubungan dengan pin, misalnya untuk memberika nilai 0 atau 1 ke suatu pin untuk menyalakan LED.
  • Tests: Berisi lebih blok-blok untuk melakukan operasi pembandingan, misalnya suatu bilangan lain atau tidak.
  • Math Operators: Berisi blok-blok yang berguna untuk melakukan operasi aritmetika seperti penjumlahan atau perkalian dan sejumlah fungsi seperti untuk menghitung akar kuadrat.
  • Variables/Constants: Berisi blok-blok yang menyatakan konstanta (misalnya HIGH atau LOW) untuk membuat atau menugaskan variabel.
  • Generic Hardware: berisi blok-blok yang menyatakan perangkat lunak umum seperti LCD, sensor Ultrasonik, dan motor servo.

Target yang akan dicapai pada eksperimen pertama adalah membuat blok seperti yang terlihat di Gambar 3.10. Nah, bagaimana membentuknya?

Gambar 3.10 Blok untuk menyusun sketsa yang ditujukan untuk membuat LED berkedipkedip

Langkah-langkah yang diperlukan adalah seperti berikut.

 

  1. Klik pada laci . Maka, akan muncul isi laci seperti berikut:

  1. Klik pada . Hasilnya ditunjukan berikut ini :

  1. Klik pada laci . Maka, akan muncul isi laci seperti berikut:

  1. Klik pada . Diperoleh hasil seperti berikut :

  1. Klik dan tarik blok terbaru tersebut ke posisi berikut:

  1. Tambahkan blok delay MILLIS yang berada di kategori CONTROL sehingga diperoleh hasil seperti berikut:

  1. Lengkapi sehingga diperoleh hasil seperti berikut:

  1. Untuk mengubah nomor pin 1 pada set digital pin teratas menjadi 12, lakukan dengan cara seperti berikut:
  • Klik pada posisi berikut:

  • Ganti angka 1 menjadi 12 dan tekan Enter.
  1. Lakukan langkah yang sama untuk set digital pin yang kedua.
  2. Letakkan penunjuk mouse pada HIGH pada set digital pin yang kedua, kemudian kliklah pada posisi berikut: Selanjutnya, pilihlah LOW. Hasil akhirnya akan seperti berikut:

3.8 Penyimpanan Blok 

Untuk kepentingan menyimpan proyek yang dibuat dengan ArduBlock, buatlah folder bernama ArduB10ck pada folder Documents terlebih dahulu.

Untuk menyimpan proyek yang baru saja dibuat, lakukan langkah-langkah seperti berikut.

  1. Klik pada. Akan muncul jendela berjudul “Save”.
  2. Pastikan bahwa folder terpilih adalah ArduB10ck.
  3. Ketik kedip pada kotak di kanan judul “File name:”.
  4. Klik tombol

Dengan begitu, proyek yang berisi blok-blok tersebut disimpan dengan nama depan kedip dan ekstensi berupa .abp.

Catatan

Jika Anda perlu melakukan perubahan pada proyek pada kesalahan lain, anda cukup mengeklik SAVE pada antarmuka ArduBlock.

3.9 Pengunggahan Ke Arduino 

Agar proyek yang dibentuk oleh ArduBlock dapat diunggahkan ke papan Arduino, langkah-langkah berikut perlu dilakukan:

    1. Klik pada Upload to Arduino Akan muncul kotak dialog seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11 Kotak dialog untuk menyimpan sketsa Arduino

  1. Ketikkan kedip (nama yang sama pada ArduBlock, untuk memudahkan dalam mengingat-ingat) pada kotak di kanan judul “File name:”.
  2. Klik pada tombol
  3. Tunggu sampai pesan “Done uploading” ditampilkan di editor Arduino IDE (Gambar 3.12).

 

Gambar 3.12 Hasil setelah sketsa diunggah ke papan Arduino

Jika rangkaian yang Anda susun sudah benar, LED pun akan berkedip-kedip.

3.10 Misteri LED Berkedip-kedip 

Nah, sekarang kita akan memulai memecahkan misteri, “Mengapa LED berkedip-kedip?”. Kunci utama adalah blok-blok yang terletak pada blok loop. Blok-blok yang terdapat di bagian ini akan diulang terus-menerus. Sekarang, marilah kita lihat blok-blok tersebut:

  • Blok digunakan untuk mengatur pin 12 agar bernilai HIGH (digital 1). Blok inilah yang membuat LED menyala mengingat LED dihubungkan ke pin 12 (lihat Gambar 3.8).
  • Blok ditujukan untuk menunda eksekusi selama 1000 milidetik atau identik dengan 1 detik. Efeknya, LED tetap menyala dalam kurun waktu tersebut.
  • Block digunakan untuk mengatur pin 12 agar bernilai LOW (digital 0).block inilah yang membuat LED padam mengingat tegangan pada LED menjadi 0 V.
  • Block ditujukan untuk menunda eksekusi selama 1000 milidetik atau identic dengan 1 detik. Efeknya, LED tetap padam dalam kurun waktu tersebut.

Tentu saja, jika keempat blok tersebut diulang-ulang, akan membuat LED berkedip-kedip. Prinsipnya sederhana, bukan?

3.11 Hubungan Antara Proyek ArduBlock dan Sketsa Arduino 

Seperti yang telah diketahui, ArduBlock secara otornatis menghasilkan sketsa  Arduino ketika Upload to diklik. Sketsa inilah yang selanjutnya perlu diunggah ke papan Arduino.

Sebagai petnbelajar ArduBlock, sebenarnya Anda tidak perlu tahu sketsa tersebut. Namun, jika kelak Anda tertarik untuk memprogram dengan C/C++ karena bahasa ini memang lebih fleksibel, Anda perlu memahami hubungan antara blok di proyek ArduBlock dan kode di sketsa Arduino. Gambar 3.13 akan memperlihatkan secara visual antara blok-blok di ArduBlock dan kode di sketsa Arduino.

Gambar 3.13 Hubungan blok dan kode di ArduBlock dan Arduino IDE

3.12 Cara untuk Mengedit Blok 

Adakalanya, setelah Anda menyusun proyek ArduBlock, Anda ingin mengeditnya. Mungkin Anda ingin menyisipkan suatu blok di antara blok-blok yang sudah tersedia. Untuk keperluan ini, Anda cukup mengklik pada blok yang akan disisipkan dan menariknya ke arah bawah blok pertama di antara dua blok yang akan disisipi, dengan mendekatkan soket ke bagian yang menonjol. Gambar 3.14 menunjukkan contoh  sebelum dan sesudah blok disisipkan.

 

Gambar 3.14 Penyisipan blok

Bagairnana halnya kalau mau menghapus ? Caranya, letakkan penunjuk mouse ke blok yang terletak sesudahnya. Lalu, klik dan tarik ke luar dari loop, Hasilnya  seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.15. Setelah itu, klik pada dan tarik ke lokasi yang ditunjukkan pada Gambar 3.16, yakni di area kategori blok. Jika penekanan pada tombol mouse dilepas, blok tersebut dibuang. Tahap selanjutnya, Anda tinggal mengklik pada blok set digital berikut dan menariknya ke arah loop:

Gambar 3.15 Hasil penarikan pada blok set digital keluar dari loop

 

Gambar 3.16 Langkah untuk membuang blok if

3.13 Kesalahan Sewaktu Upload 

Jika suatu blok yang mengandung soket yang memerlukan argumen berupa blok lain dan ternyata tidak dilengkapi dengan argumennya, akan terjadi kesalahan kalua tombol diklik. Sebagai contoh, Gambar 3.17 memperlihatkan keadaan Ketika argument dikeluarkan dari block set MILIS.

Gambar 3.17 Argumen pada delay MILLIS tidak dipasang

Pada keadaan seperti itu, Anda bisa tnencoba untuk mengklik tombol , Apa yang tetjadi? Pesan kesalahan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.18 Blok yang dianggap salah akan ditandai semacam berikut:

Perhatikan keberadaan latar belakang atau bayangan pada blok tersebut.

Gambar 3.18 Pesan kesalahan karena terdapat blokyang tidak lengkap

3.14 Menutup dan Membuka Kembali Program yang Dibuat dengan ArduBlock 

Jika Anda tidak bermaksud untuk membuat proyek dengan ArduBlock, Anda bisa menutup program ArduBlock dengan mengeklik pada Pada . kesempatan lain, Anda bisa membuka kembali melalui menu Tools, kemudian mengeklik pada ArduBlock.

 

Bagaimana caranya kalau mau membuka kembali suatu proyek yang dibuat dengan ArduBlock? Anda bisa mengeklik tombol terlebih dahulu. Kemudian, pilihlah folder ArduBlock. Setelah itu, klik pada file yang hendak dibuka. Terakhir, klik pada tombol

 

Catatan

Jika anda pernah menyimpan sketsa Arduino yang dibentuk oleh ArduBlock, buka pila file tersebut, sehingga segala perubahan Ketika anda mengeklik tombol akan di arahkan ke editor yang berisi sketsa tersebut.

  • 0

Cara Membuat Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

Salah satu alat yang paling penting untuk menjaga kebersihan adalah ketersediaan tempat sampah. Namun keberadaannya kadang membuat repot danmenjadikan tangan kita menjadi kotor khususnya pada tempat sampah yang ada penutupnya. Pada kali ini kami akan menjelaskan sedikit hal mengenai cara membuat tempat sampah otomatis dengan arduino. Dengan teknologi ini, membuang sampah adalah hal yang sangat praktis dilakukan karena ketika kita mendekati tempat sampah tersebut, secara otomatis penutup tempat sampah akan terbuka sehingga tangan kita tetap terjaga kebersihannya. Selain itu dengan adanya speaker yang kita tempatkan di tempat sampah ini akan membantu kaum disabilitas khususnya tunanetra dalam membuang sampah di tempat yang benar. Adapun details cara pembuatan tempah sampah otomatis menggunakan arduino akan kita bahas dengan details seperti dibawah ini.

Sistem Kerja Tempat Sampah Otomatis Dengan Arduino
Pada alat yang telah dirancang ini digunakan untuk membuang sampah, pada saat orang sudah membuang sampah pada tempatnya maka akan muncul notifikasi ucapan terimakasih melalui speaker. Alat ini dapat bekerja secara otomatis dengan bantuan sensor. Pada alat ini menggunakan sensor ultrasonic, Sensor ultrasonic sendiri digunakan untuk mengukur jarak orang yang akan membuang sampah. Pada saat jarak kurang dari 30 cm maka sensor ultrasonic akan mengirimkan data ke motor servo. Setelah data di terima motor servo maka motor servo akan membuka 180˚ kemudian tutup sampah akan terbuka dan data suaranya akan tersimpan pada DFPlayer Mini kemudian speaker akan mengeluarkan notifikasi suara “terimakasih telah membuang sampah pada tempatnya”.
Setelah itu sensor ultrasonic akan membaca jarak lebih dari 30 cm lalu akan mengirimkan data tersebut ke motor servo. Setelah menerima data dari sensor ultrasonic maka motor servo akan kembali menutup kembali ke posisi awal 0˚. Jadi pada saat orang membuang sampah maka penutup pada tong sampah otomatis akan membuka dan setelah selesai membuang sampah ke tong sampah akan ada notifikasi ucapan terimakasih yang dikeluarkan oleh speaker lalu setelah delay 10 detik tong sampah akan menutup kembali secara otomatis.

Peralatan dan komponen yang digunakan pada Tempat Sampah Otomatis Dengan Arduino
• 1 buah Arduino Nano
• 1 buah Sensor Ultrasonic
• 1 buah DFPlayer Mini
• 1 buah Speaker
• 1 buah Step Down
• 1 buah Motor Servo
• 1 buah button switch

  1. ARDUINO NANO

Arduino Nano

Arduino merupakan sebuah platform dari physical computing yang bersifat open source. Arduino tidak hanya sekedar sebuah alat pengembang, tetapi merupakan kombinasi dari hardware, bahasa pemrogaman dan Integrated Development Environment (IDE) yang canggih IDE adalah sebuah software yang berperan untuk menulis program, meng-compile menjadi kode biner dan mengupload ke dalam memory microcontroler.
Arduino Nano adalah salah satu board mikrokontroler yang berukuran kecil, lengkap dan mendukung penggunaan breadboard. Arduino Nano diciptakan dengan basis microcontroler ATmega328 (untuk Arduino Nano versi 3.x) atau Atmega 16(untuk Arduino versi 2.x). Arduino Nano kurang lebih memiliki fungsi yang sama dengan Arduino Duemilanove, tetapi dalam paket yang berbeda. ArduinoNano tidak menyertakan colokan DC berjenis Barrel Jack, dan dihubungkan ke komputer menggunakan port USB Mini-B. Arduino Nano dirancang dan diproduksi oleh perusahaan Gravitecth.
• Konfigurasi pin Arduino Nano.Arduino Nano memiliki 30 Pin.
Berikut Konfigurasi pin Arduino Nano:
1. VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya digital.
2. GND merupakan pin ground untuk catu daya digital.
3. AREF merupakan Referensi tegangan untuk input analog. Digunakan dengan fungsi analogReference().
4. RESET merupakan Jalur LOW ini digunakan untuk me-reset (menghidupkan ulang) mikrokontroler. Biasanya digunakan untuk menambahkan tombol reset pada shield yang menghalangi papan utama Arduino.
5. Serial RX (0) merupakan pin sebagai penerima TTL data serial.
6. Serial TX (1) merupakan pin sebagai pengirim TT data serial.
7. External Interrupt (Interupsi Eksternal) merupakan pin yang dapat dikonfigurasi untuk memicu sebuah interupsi pada nilai yang rendah, meningkat atau menurun, atau perubahan nilai.
8. Output PWM 8 Bit merupakan pin yang berfungsi untuk dataanalogWrite().
9. SPI merupakan pin yang berfungsi sebagai pendukung komunikasi.
10. LED merupakan pin yang berfungsi sebagai pin yag diset bernilai
11. HIGH, maka LED akan menyala, ketika pin diset bernilai LOW maka LED padam. LED Tersedia secara built-in pada papan Arduino Nano.
12. Input Analog (A0-A7) merupakan pin yang berfungsi sebagi pin yang dapat diukur/diatur dari mulai Ground sampai dengan 5 Volt, juga memungkinkan untuk mengubah titik jangkauan tertinggi atau terendah mereka menggunakan fungsi analog Reference().

• Spesifikasi Arduino
Berikut ini adalah spesifikasi yang dimiliki oleh Arduino Nano:
1. Chip Mikrokontroller menggunakan ATmega328p atau Atmega168.
2. Tegangan operasi sebesar 5volt.
3. Tegangan input (yang disarankan) sebesar 7volt – 12 volt.
4. Terdapat pin digital I/O 14 buah dan 6 diantaranya sebagai output PWM.
5. 8 Pin Input Analog.
6. 40 Ma Arus DC per pin I/O.
7. Flash Memory16KB (Atmega168) atau 32KB (Atmega328) 2KB digunakan oleh Bootloader.
8. 1 KbyteSRAM (Atmega168) atau 2 Kbyte 32KB (Atmega328).
9. 512 Byte EEPROM (Atmega168) atau 1 Kbyte (Atmega328).
10. 16MHz Clock Speed.
11. Ukuran 1.85cm x 4.3cm.

2. Sensor Ultrasonik

Sensor Ultrasonic

Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor yang berfungsi untuk mengubah besaran fisis (bunyi) menjadi besaran listrik dan sebaliknya. Cara kerja sensor ini didasarkan pada prinsip dari pantulan suatu gelombang suara sehingga dapatdipakai untuk menafsirkan eksistensi (jarak) suatu benda dengan frekuensi tertentu. Disebut sebagai sensor ultrasonik karena sensor ini menggunakan gelombang ultrasonik (bunyi ultrasonik).
Gelombang ultrasonik adalah gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi sangat tinggi yaitu 20.000 Hz. Bunyi ultrasonik tidak dapat di dengar oleh telinga manusia. Bunyi ultrasonik dapat didengar oleh anjing, kucing, kelelawar, dan lumbalumba. Bunyi ultrasonik nisa merambat melalui zat padat, cair dan gas. Reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat padat hampir sama dengan reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat cair. Akan tetapi, gelombang bunyi ultrasonik akan diserap oleh tekstil dan busa.
Pada sensor ultrasonik, gelombang ultrasonik dibangkitkan melalui sebuah alat yang disebut dengan piezoelektrik dengan frekuensi tertentu. Piezoelektrik ini akan menghasilkan gelombang ultrasonik (umumnya berfrekuensi 40kHz) ketika sebuah osilator diterapkan pada benda tersebut. Secara umum, alat ini akan menembakkan gelombang ultrasonik menuju suatu area atau suatu target. Setelah gelombang menyentuh permukaan target, maka target akan memantulkan kembali gelombang tersebut. Gelombang pantulan dari target akan ditangkap oleh sensor, kemudian sensor menghitung selisih antara waktu pengiriman gelombang dan waktu gelombang pantul diterima.

3. Df Player Mini

Df Player Mini

DFPlayer mini adalah modul sound player yang dapat mendukung beberapa file salah satumya adalah file mp3 yang umumnya digunakan sebagai format sound file. DFPlayer mini ini mempunyai 16 pin interface yaitu berupa pin standar DIP dan pin header pada kedua sisinya. DFPlayer mini tersebut dapat bekerja sendiri secara standalone ataupun bekerja bersama dengan mikrokontroler melalui koneksi
serial.

 

4. Speaker

Speaker

Speaker adalah transduser yang dapat mengubah sinyal listrik menjadi frekuensi audio (sinyal suara) yang dapat didengar oleh telinga manusia dengancara menggetarkan komponen membran pada speaker tersebut sehingga terjadilah gelombang suara. Speaker terdiri dari beberapa komponen utama yaitu cone, suspension, magnet permanen, voice coil dan juga kerangka speaker.
Prinsip kerja speaker adalah ketika sinyal listrik melewati voice coil yang terdiri dari kumparan, membangkitkan medan magnet dan berinteraksi dengan magnet permanen sehingga menggerakan cone speaker maju dan mundur, semakin besarnya cone semakin besar pula permukaan yang dapat menggerakan udara sehingga suara yang dihasilkan speaker juga akan semakin besar. Suspension yang terdapat dalam speaker berfungsi untuk menarik cone ke posisi semulanya setelah bergerak maju dan mundur serta berfungsi sebagai pemegang cone dan voice coil. Kekakuan (rigidity), komposisi, dan desain suspension sangat mempengaruhi kualitas suara speaker.

5. Motor Servo

Motor Servo

Motor servo adalah sebuah motor dengan sistem umpan balik tertutup dan posisi dari motor akan diinformasikan kembali ke rangkaian kontrol yang ada di dalam motor servo. Motor ini terdiri dari sebuah motor DC, rangkaian kontrol dan rangkaian gear yang kuat untuk mempertahankan sudut putaran. Motor servo merupakan salah satu jenis motor DC, berbeda dengan motor stepper, motor servo beroperasi secara close loop. Poros motor dihubungkan dengan rangkaian kendali, sehingga jika putaran poros belum sampai pada posisi yang diperintahkan maka rangkaian kendali akan terus mengoreksi posisi hingga mencapai posisi yang diperintahkan. Sedangkan sudut dari sumbu motor servo diatur berdasarkan lebar pulsa yang dikirim melalui kaki sinyal dari kabel motor. Jika ada kekuatan eksternal yang mencoba memutar atau mengubah posisi tersebut, maka motor servo akan mencoba menahan dengan kekuatan torsi yang dimiliki, namun motor servo tidak akan mempertahankan posisinya untuk selamanya, sinyal lebar pulsa kendali harus diulang setiap 20 ms untuk menginstruksikan agar posisi poros motor servo tetap bertahan pada posisinya. Motor servo ada dua jenis yaitu motor servo continous dan motor servo standart. Kedua motor servo ini tidak jauh berbeda, perbedaannya terletak pada sudut putaran. Motor servo standart hanya mampu bergerak dua arah CW (Clock Wise) dan CCW (Counter Clock Wise) dengan sudut maksimum yaitu 0 sampai 180 derajat. Motor servo continous ini mampu bergerak dua arah CW (Clock Wise) dan CCW (Counter Clock Wise) dengan sudut yang dapat berputar secara continue sampai 360 derajat.

6. Switch

Push button switch (saklar tombol tekan) adalah perangkat / saklar sederhana yang berfungsi untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik dengan sistem kerja tekan unlock (tidak mengunci). Sistem kerja unlock disini berarti saklar akan bekerja sebagai device penghubung atau pemutus aliran arus listrik saat tombol ditekan, dan saat tombol tidak ditekan (dilepas), maka saklar akan kembali pada kondisi normal.

7. Step Down 4R7

Step Down 4R7

Versi mini dari penurun tegangan DC-DC ekonomis yang bisa distel tegangan output nya. Cocok untuk pemasangan peralatan komunikasi dan elektronik yang mini, ringan, tidak memakan tempat dan sangat portable.
Spesifikasi:
1. Tegangan input: 4.5-28V
2. Tegangan output: 0.8-20V (adjustable)
3. Arus output: 3A (maximum)
4. Efisiensi: 96% (maximum)
5. Output ripple: 30mV
6. Switching frequency: 1.5MHz (tertinggi), rata-rata 1MHz
7. Suhu kerja: -45C sd +85C
8. Ukuran: 22x17x4 mm
Perhatian: Tegangan input harus lebih besar dari tegangan output dengan selisih minimum 1.5V, Tegangan output bisa distel dgn memutar potensio kecil dgn obeng bunga (+). Gunakan multimeter pada bagian output untuk membaca tegangan output yang diinginkan. Untuk penggunaan jangka waktu lama disarankan untuk menggunakan arus kurang dari 2.5A atau menggunakan tambahan heatsink (diatas 10W)\n- Koneksi kabel langsung disolder pada bagian input dan output.
CATATAN: Perhatikan tanda + dan -, jangan sampai terbalik. Jika terbalik akan merusak modul
Contoh pemakaian:
a. Sumber listrik pada peralatan komunikasi yg ringkas dan portable
b. Sebagai driver untuk segala macam variasi tegangan LED. Segala merek, bentuk, model &amp; ukuran LED biasanya mempunyai voltase yang berbeda-beda, nah modul LM2596 ini bisa distel sesuai tegangan input LED yang diinginkan. Juga mampu menghantarkan arus max 3000mA (continuous 2000mA dengan heatsink) sehingga mampu menerangi LED yang berdaya watt besar sekalipun.
c. Untuk menghidupkan peralatan elektronik dengan beragam tegangan. Agan bisa stel output tegangannya sesuai spesifikasi peralatan elektronik yang dipakai.
d. Uji coba / praktikum. Agan bisa memakai modul ini untuk berbagai proyek praktikum elektronika dan mengukur variasi sistem tegangan. Sangat mudah dan nyaman.

Diagram Blok Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino 

Diagram Blok Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

Flowchart Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino 

Flowchart Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

Schematics Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino 

Schematics Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

 

PCB Board Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

PCB Board Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

Koneksi dengan Arduino :
Koneksi Ultrasonic dengan Arduino Nano

Ultrasonic Pin Arduino
VCC VIN
Trigger D3
Echo D2
GND GND

Koneksi DF Player dan Speaker dengan Arduino Nano

DF Player Pin Arduino
VCC VIN
RX D8
TX D7
GND GND
SPK1 Plus Speaker
SPK2 Plus Speaker

Koneksi Motor Servo dengan Arduino Nano

Motor Servo Pin Arduino
GND GND
VCC VIN
Pin Data D5

Kode Pemrograman (Source Code) Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino

#include <Servo.h>

Servo myservo;

int pos = 20;

#include <SoftwareSerial.h>

#include <DFPlayer_Mini_Mp3.h>

 

 

 

SoftwareSerial mySerial(8, 7);

 

void setup() {

Serial.begin (9600);

mySerial.begin(9600);

pinMode(trigPin, OUTPUT);

pinMode(echoPin, INPUT);

myservo.attach(5);

 

 

 

mp3_set_serial(mySerial);

delay(10);

}

 

void loop() {

digitalWrite(trigPin, LOW); delayMicroseconds(2);

digitalWrite(trigPin, HIGH); delayMicroseconds(10);

digitalWrite(trigPin, LOW);

duration = pulseIn(echoPin, HIGH);

distance = duration * 0.034 / 2;

Serial.print(“Jarak:”); Serial.println(distance);

if (distance < 30) {

myservo.write(180);

Serial.println(“OPEN”);

delay(1000);

Tempat Sampah Otomatis Arduino Tutup

Tempat Sampah Otomatis Arduino Buka

 

Cara Proses Kerja Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino
1. Tancapkan konektor DC yang ada pada sepasang baterai 3.7
2. Tekan switch untuk mengaktifkan
3. Ketika sudah aktif semua sensor akan membaca kondisi sekitar
4. Kemudian berdirilah didepan tempat sampah dengan membuang sampahnya
5. Maka sensor ultrasonic akan mengirimkan data ke motor servo pada jarak kurang dari 30 cm, lalu penutup tempat sampah akan membuka dan akan muncul notifikasi “Yupidi. yang utama pilah sampah sejak dini. Terimakasih sudah membuang sampah pada tempatnya” suara yang keluar dari speaker kemudian setelah delay 10 detik tempat sampah akan muncul kembali.

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan alat tempah sampah otomatis menggunakan arduino. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar kita.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat penyiram tanaman otomatis pada kebun, alat penyiram tanaman otomatis pada green house, alat penyiram tanaman otomatis pada taman, atau aplikasi otomasi dibidang peternakan, rumah dan perkantoran kami siap membuatkannya. silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

 

 

Baca Juga :
Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android
Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi
Pembuatan Tempat Sampah Otomatis dengan Arduino
Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 

 


  • 0

Pembuatan Lampu Kamar Mandi Otomatis dengan Arduino

Pada kesempatan ini, kita akan menjelaskan mengenai bagaimana cara pembuatan lampu kamar mandi otomatis dengan menggunakan arduino. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa lampu kamar mandi merupakan lampu yang sering dipakai sebab penggunaannya yang sering dan jarang dimatikan. Dengan pemasangan lampu kamar mandi otomatis, maka kita bisa menghemat pemakaian listrik dan kita tidak perlu terlalu sering menyalakan dan mematikan tombol lampu kamar mandi, hingga sering mengalami kerusakan. Berikut ini adalah gambaran cara pembuatan lampu kamar mandi otomatis menggunakan arduino.

Sistem Kerja Lampu Kamar Mandi Otomatis dengan Arduino

Arduino uno yang digunakan sebagai kontrol nyala hidup nya lampu kamar mandi otomatis. Dalam alat ini menggunakan 2 buah sensor, Sensor PIR digunakan untuk mendeteksi adanya gerakan di dalam kamar mandi, jika sensor mendeteksi adanya gerakan didalam kamar mandi dengan kondisi pintu yang terpasang sensor magnet tertutup lampu akan menyala. Akan tetapi jika sensor pir mendeteksi adanya gerakan namun pintu yang telah terpasang sensor magnet kondisi terbuka lampu tidak menyala. Jika tidak ada gerakan dan pintu tertutup lampu tidak menyala.
Alat yang digunakan :
• 1 Buah Arduino Nano
• 1 Buah Sensor PIR
• 1 Buah Sensor Magnet
• 1 Buah Relay
• 1 Buah Lampu

Arduino nano

sensor PIR

Sensor Magnet

Relay 4 Channel

DIAGRAM BLOK

Berikut ini adalah Diagram Blok Lampu Kamar Mandi Otomatis dengan Arduino

SCHEMATICS

Berikut ini adalah Schematics Lampu Kamar Mandi Otomatis dengan Arduino

KONEKSI DENGAN ARDUINO DALAM PEMBUATAN LAMPU OTOMATIS KAMAR MANDI MENGGUNAKAN ARDUINO

Koneksi Sensor Magnet dengan Arduino

Module Sensor Pin Arduino
DO D2
VCC 5V
GND GND

Koneksi Sensor PIR dengan Arduino

Module Sensor Pin Arduino
DO D3
VCC 5V
GND GND

Koneksi Output Sensor dengan Arduino

Output Sensor Pin Arduino
Relay D4

Berikut ini adalah SOURCE CODE dan Pemrograman Pembuatan Lampu Kamar Mandi Otomatis dengan Arduino

#define PIR 7
#define Lampu 5
int flag_PIR = LOW;
int state = 0;

void setup() {
pinMode(PIR, INPUT);
pinMode(Lampu,OUTPUT);
Serial.begin(9600);
pinMode(2, INPUT_PULLUP);
pinMode(Lampu, OUTPUT);
}
void loop(){
int bacaSensor = digitalRead(2);
if (bacaSensor == LOW && state == 0) {
Serial.println(“pintu terbuka”);
state = 1;}
else if ((digitalRead(PIR)==HIGH)&&(flag_PIR == LOW)){
flag_PIR = HIGH;
digitalWrite(Lampu,HIGH);
delay (1000);}
if (bacaSensor == HIGH){
state = 0;
Serial.println(“pintu tertutup”);}
else if ((digitalRead(PIR)==LOW)&&(flag_PIR == HIGH)){
flag_PIR = LOW;
digitalWrite(Lampu,LOW);
delay (1000);}
}

BENTUK ALAT LAMPU KAMAR MANDI OTOMATIS DENGAN ARDUINO

Berikut ini adalah bentuk alat lampu kamar mandi otomatis dengan arduino:

CARA KERJA ALAT LAMPU KAMAR MANDI OTOMATIS MENGGUNAKAN ARDUINO

1. Sensor magnet dipasang pada pintu, lalu sensor Pir diletakan pada bagian yang mudah mendapat sering dilewati didalam kamar mandi.
2. Ketika pintu dibuka dan sensor pir mendeteksi adanya gerakan maka lampu akan secara otomatis menyala. Jika sudah tidak terdeteksi adanya gerakan lagi lampu akan secara otomatis mati.

 

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan lampu kamar mandi otomatis dengan arduino. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar khususnya otomasi untuk kemanan rumah kita.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat lampu kamar mandi otomatis dengan arduino kami siap membuatkannya. Silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

 

Baca Juga :
Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android
Pembuatan Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi
Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 

 

 

 


  • 0

Pembuatan Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino

Pembuatan kunci elektrik menggunakan password menggunakan arduino juga merupakan salah satu cara agar rumah kita tidak mudah dimasuki oleh orang orang yang memiliki niat jahat. Sebagai salah satu alat kunci pengaman rumah alat ini sangta bermanfaat sebagai pengganti kunci rumah manual. Sebab dengan menggunakan password, maka pintu rumah kita akan terbuka secara otomatis.

Sistem Kerja Alat Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino
Kunci Elektrik dengan Password ini merupakan alat yang berfungsi untuk membuka atau mengunci pintu sehingga menambah tingkat keamanan . Keypad yang ada digunakan untuk memasukan data berupa pin password, dapat digunakan juga untuk mengubah password yang ada. Lcd digunakan untuk menampilkan inputan password maupun ketika akan mengganti password. Selonoid berfungsi sebagai kunci pada pintu.
Alat yang digunakan :
• 1 Buah Arduino Nano
• 1 Buah Keypad
• 1 Buah Selenoid
• 1 Buah Relay
• 1 Buah LCD 16×2

Arduino Uno

Relay 4 Channel

LCD 16×2

keypad

selenoid

DIAGRAM BLOK

Berikut ini adalah Diagram Blok Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino

diagram blok kunci elektrik menggunakan password dengan arduino

 

SCHEMATICS

Berikut ini adalah Schematics Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino

schematics kunci elektrik menggunakan password dengan arduino

Koneksi dengan Arduino untuk Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino
Koneksi LCD dengan Arduino Nano

LCD Pin Arduino
RS A0
EN A1
D4 A2
D5 A3
D6 A4
D7 A5

 

Koneksi Keypad 4×4 dengan Arduino Nano

Pin Keypad Pin Arduino
1 D2
2 D3
3 D4
4 D5
A D6
B D7
C D8
D D9

Koneksi Relay dengan Arduino Nano

Output Sensor Pin Arduino
Relay D12

 

Berikut ini adalah SOURCE CODE dan Pemrograman Pembuatan Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino

#include <Wire.h>
#include <Keypad_I2C.h>
#include <Keypad.h>
#include <Wire.h> // Comes with Arduino IDE
#include <LiquidCrystal_I2C.h>
#include <EEPROM.h>

unsigned char key,menu,urut;
unsigned char pw1,pw2,pw3,pw4,pw5,pw6,i;
unsigned char pw_kpd1,pw_kpd2,pw_kpd3,pw_kpd4,pw_kpd5,pw_kpd6;
unsigned char cek,cnt;
unsigned char fkpd;
char pw[7],pw_kpd[7];
char s,t;

//—————————-INISIALISASI KONEKSI LCD 2X16

LiquidCrystal_I2C lcd(0x27, 2, 1, 0, 4, 5, 6, 7, 3, POSITIVE);
//—————————-INISIALISASI KONEKSI KEYPAD 4X4
const byte ROWS = 4;
const byte COLS = 4;

char keys[ROWS][COLS] = {
{‘1′,’2′,’3′,’A’},
{‘4′,’5′,’6′,’B’},
{‘7′,’8′,’9′,’C’},
{‘*’,’0′,’#’,’D’}
};

byte rowPins[ROWS] = {0,1,2,3};
byte colPins[COLS] = {4,5,6,7};

int i2caddress = 0x20;

Keypad_I2C kpd = Keypad_I2C( makeKeymap(keys), rowPins, colPins, ROWS, COLS, i2caddress );

void setup()
{
pinMode(10,OUTPUT);
pinMode(11,OUTPUT);
digitalWrite(10,0);
digitalWrite(11,0);

lcd.begin(20,4);
for(int i = 0; i< 3; i++)
{
lcd.backlight();
delay(250);
lcd.noBacklight();
delay(250);
}
lcd.backlight();
lcd.setCursor(3,0);
lcd.print(“kunci elektrik”);
delay(1000);
lcd.setCursor(2,1);
lcd.print(“dengan paassword”);
delay(1000);
//———————cek alamat 0
cek=EEPROM.read(0);
if(cek==0xFF){
cek=1;
EEPROM.write(0,’1′);
pw1=’1′; EEPROM.write(1,’1′);
pw2=’1′; EEPROM.write(2,’1′);
pw3=’1′; EEPROM.write(3,’1′);
pw4=’1′; EEPROM.write(4,’1′);
pw5=’1′; EEPROM.write(5,’1′);
pw6=’1′; EEPROM.write(6,’1′);
}
else{
pw1=EEPROM.read(1);
pw2=EEPROM.read(2);
pw3=EEPROM.read(3);
pw4=EEPROM.read(4);
pw5=EEPROM.read(5);
pw6=EEPROM.read(6);
}
fkpd=0;
delay(200);
}

void loop()
{
//—————————– display time
digitalWrite(10,1);
lcd.clear();
lcd.print(“Silakan kunci…”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“Tekan #”);
fkpd=2;
goKeypad();
lcd.clear();
lcd.print(“Pintu Terkunci”);
delay(2000);
pass:
lcd.clear();
lcd.print(“Masukan Password”);
lcd.setCursor(0,1);
fkpd=1;
menu=0;
goKeypad();
if(menu==4) goto pass;
}
//—————————- keypad
void goKeypad(){
do{
key=keypad.getKey();
if(key != NO_KEY){

if(key==’*’ && fkpd==1){
lcd.clear();
lcd.print(“Ganti Password”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“PW lama=”);
menu=1;
delay(300);
}

else if(key==’#’ && fkpd==2){
fkpd=0;
digitalWrite(8,0);
delay(250);
}

else if ((key==’C’)&&(fkpd == 1)){ //C
if(menu==3){
lcd.clear();
lcd.print(“PW baru:”);
menu=2;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
cnt=0;
}
else if(menu==2){
menu=4;
fkpd=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
cnt=0;
}
else if((menu==1)||(menu==0)){
menu=4;
fkpd=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
cnt=0;
}
delay(250);
}

else if (key==’D’&& menu==3){
lcd.clear();
lcd.print(“Simpan PW Baru..”);
EEPROM.write(1,pw_kpd[0]);
EEPROM.write(2,pw_kpd[1]);
EEPROM.write(3,pw_kpd[2]);
EEPROM.write(4,pw_kpd[3]);
EEPROM.write(5,pw_kpd[4]);
EEPROM.write(6,pw_kpd[5]);
EEPROM.write(0,1);
pw1 = pw_kpd[0];
pw2 = pw_kpd[1];
pw3 = pw_kpd[2];
pw4 = pw_kpd[3];
pw5 = pw_kpd[4];
pw6 = pw_kpd[5];

fkpd = 0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
delay(3000);
menu = 4;
}

else if(menu<2 && fkpd==1 && key!=’A’ && key!=’B’
&& key!=’C’ && key!=’D’ && key!=’*’ && key!=’#’){
cek_password();
}
else if(menu==2 && fkpd==1&& key!=’A’ && key!=’B’
&& key!=’C’ && key!=’D’ && key!=’*’ && key!=’#’){
entri_password();
}

}
}
while(fkpd);
}

void cek_password(){
pw_kpd[cnt]=key;
cnt++;
lcd.print(‘*’);
// lcd.print(char(key));
if((cnt==6)&&(menu==0)){
delay(500);
if((pw1==pw_kpd[0])&&(pw2==pw_kpd[1])&&(pw3==pw_kpd[2])&&(pw4==pw_kpd[3])&&(pw5==pw_kpd[4])&&(pw6==pw_kpd[5])){
lcd.clear();
lcd.print(“Password Benar”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“Silakan Masuk”);
digitalWrite(10,1);
digitalWrite(11,1);
delay(200);
digitalWrite(11,0);
delay(200);
digitalWrite(11,1);
delay(200);
digitalWrite(11,0);
cnt=0;
fkpd=0;
s=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
delay(3000);
}
else {
lcd.clear();
lcd.print(“Password Salah”);
s++;
if(s < 3){
digitalWrite(11,1);
delay(2000);
digitalWrite(11,0);
lcd.clear();
lcd.print(“Masukan Password”);
lcd.setCursor(0,1);
cnt=0;
for(t=0;t<6;t++)
pw_kpd[t]=’ ‘;
}
else if (s==3){
lcd.clear();
lcd.print(“Anda 3x Salah”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“Tunggu 1 Menit”);
for(i=0;i<15;i++){
digitalWrite(11,1);
delay(2000);
digitalWrite(11,0);
delay(2000);
}
lcd.clear();
lcd.print(“Masukan Password”);
lcd.setCursor(0,1);
cnt=0;
s=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
}
}
}
else if((cnt==6)&&(menu==1)){
if((pw1==pw_kpd[0])&&(pw2==pw_kpd[1])&&(pw3==pw_kpd[2])&&(pw4==pw_kpd[3])&&(pw5==pw_kpd[4])&&(pw6==pw_kpd[5])){
lcd.clear();
lcd.print(“Password Benar”);
lcd.setCursor(0,1);
delay(2000);
lcd.clear();
lcd.print(“PW baru:”);
cnt=0;
menu=2;
s=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
}
else {
s++;
if(s < 3){
lcd.clear();
lcd.print(“Password Salah”);
cnt=0;
delay(2000);
lcd.clear();
lcd.print(“Ganti Password”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“PW lama=”);
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
}
else if (s==3){
lcd.clear();
lcd.print(“Anda 3x Salah”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“Tunggu 1 Menit”);
for(i=0;i<15;i++){
digitalWrite(11,1);
delay(2000);
digitalWrite(11,0);
delay(2000);
}
lcd.clear();
lcd.print(“Ganti Password”);
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“PW lama=”);
cnt=0;
s=0;
for(t=0;t<6;t++)pw_kpd[t]=’ ‘;
}
}
}
}

void entri_password(){
lcd.print(char(key));
pw_kpd[cnt]=key;
cnt++;
if(cnt==6){
lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“D=save,C=cancel”);
menu=3;
cnt=0;

}
}

 

BENTUK KUNCI PINTU ELEKTRIK MENGGUNAKAN PASSWORD DENGAN ARDUINO

Berikut ini adalah bentuk kunci pintu elektrik menggunakan password dengan arduino:

 

 

 

 

Berikut ini adalah Proses Kerja Alat Kunci Elektrik Menggunakan Password dengan Arduino
1. Hidupkan alat agar mengaktifkan semua perangkat
2. Ketika sudah aktif semua pada layar LCD akan muncul tampilan “KUNCI ELEKTRIK DENGAN PASSWORD”

3. Kemudian akan muncul perintah untuk mengunci dengan menekan (#) .

4. Ketika akan membuka kunci akan muncul tampilan untuk memasukan Password, sebagai contoh password “111111”

Tampilan di LCD : “MASUKKAN PASSWORD” “xxxxxxxxxxx”

5. Jika password benar maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini:

“PASSWORD BENAR”

“SILAHKAN MASUK”

6. Apabila password benar maka solenoid akan terbuka
7. Namun jika password yang dimasukan salah maka harus mengulang memasukan password kembali.
8. Dalam mengulang password ada batas pengulangan jika batas pengulangan sudah terlampaaui maka LCD akan muncul tampilan seperti dibawah ini:

“ANDA 3 KALI SALAH”‘

“SILAHKAN TUNGGU 5 MENIT”

9. Untuk mengubah password dapat menekan tombol (*) kemudian masukan password baru, akan muncul tampilan pilihan apakah akan menyimpan atau membatalkan.

“PW BARU : XXXXXX”

“D=SAVE, C=CANCEL”

10. Ketika password baru sudah selesai dibuat makan tampilan akan muncul seperti sebelumnya

“MASUKKAN PASSWORD”

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan kunci rumah elektrik menggunakan password dengan arduino. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar khususnya otomasi untuk kemanan rumah kita.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat kunci rumah elektrik menggunakan password dengan arduino kami siap membuatkannya. Silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

 

 

Baca Juga :
Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android
Pembuatan Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi
Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 


  • 0

Alarm Pintu Rumah Dengan Sensor Magnet Menggunakan Arduino

Pintu rumah merupakan kunci awal dalam keamanan rumah kita dari pencurian. Ada beberapa cara dalam mengamankan rumah kita dari pencurian. Bisa memasang cctv di rumah kita maupun salah satunya adalah dengan memasang alarm pada pagar atau pintu rumah kita sehingga apabila ada obyek yang tidak dikenali masuk ke rumah, kita dapat segera mengetahuinya.

Pada kesempatan ini kita akan menjelaskan cara membuat alarm pintu rumah dengan sensor magnet menggunakan arduino uno. Gambaran kerjanya adalah sensor magnet akan kita letakkan pada pintu. Ketika pintu terbuka maka arduino akan mengaktifkan dan menyalakan buzzer sehingga penghuni rumah tahu apabila adaobyek tak dikenal masuk kerumah.

Sistem Kerja Alarm Pintu Rumah :
Arduino akan membaca Sensor Magnet. Kondisi awal sensor magnet ini saling berdekatan yang diletakan pada pintu. Ketika sensor magnet diletakan pada pintu dengan kondisi pintu terbuka maka akan mengaktifkan buzzer menandakan pintu sedang terbuka jika pintu tertutup kondisi akan kembali seperti awal.
Alat yang digunakan :
• 1 Buah Arduino Nano
• 1 Buah Sensor Magnet
• 1 Buah Buzzer

Arduino Uno

Sensor Magnet

DIAGRAM BLOK

Adapun Diagram Blok alarm pintu rumah dengan menggunakan arduino adalah sebagai berikut:

SCHEMATICS ALARM PINTU RUMAH

Adapun schematics alarm pintu rumah adalah sebagai berikut :

KONEKSI DENGAN ARDUINO

Adapun koneksi sensor dengan arduino nano dijelaskan sbb:

Module Sensor Pin Arduino
DO D4
GND GND

Adapun Koneksi Output Sensor adalah sebagai berikut :

Output Sensor Pin Arduino
Buzzer D2
Led 1 D11
Led2 D12

Berikut ini adalah SOURCE CODE atau PEMROGRAMAN DENGAN ARDUINO NANO untuk alarm pintu rumah :

int Sensor = 4;
int alarm = 2;
int nilaisensor;
int lamp = 11;
int indicator = 12;

void setup() {
// put your setup code here, to run once:
pinMode(Sensor, INPUT); digitalWrite(Sensor, HIGH);
pinMode(alarm, OUTPUT);
pinMode(lamp, OUTPUT);
pinMode(indicator, OUTPUT);
}
void ada(){
digitalWrite(alarm, HIGH);
delay(75);
digitalWrite(alarm, LOW);
delay(75);
digitalWrite(alarm, HIGH);
delay(75);
digitalWrite(alarm, LOW);
delay(75);
digitalWrite(lamp, HIGH);
digitalWrite(indicator, LOW);
}
void loop() {
nilaisensor= digitalRead(Sensor);
if(nilaisensor==LOW){
digitalWrite(alarm, LOW);
digitalWrite(lamp, LOW);
digitalWrite(indicator, HIGH);
}
else{
ada();
}
}

Berikut ini Bentuk Alat Alrm Pintu Rumah :

Proses Jalannya Alat Alarm Pintu Rumah:
1. Kondisi awal sesor magnet dipasang pada pintu.
2. Ketika kondisi pintu tertutup led akan menyala dengan warna kuing.
3. Ketika kondisi pintu dibuka led yang bewarna merah akan menyala dan buzzer akan aktif, sehingga dapat dijadikan tanda jika pintu ada yang membuka.

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan Alarm Pintu Rumah dengan arduino. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar khususnya otomasi untuk kemanan rumah kita.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat alarm pintu rumah dengan konsep smarthome kami siap membuatkannya. silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

 

 

Baca Juga :
Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things
Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android
Pembuatan Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi
Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 

 

 


  • 0

Pembuatan Timbangan Bayi Digital Otomatis dengan Arduino

Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas pembuatan timbangan bayi digital. Judul diatas lebih tepatnya adalah Alat Otomasi Monitoring Gizi Buruk Pada Bayi. Jadi parameter pada alat ini adalah mengukur berat badan pada bayi, panjang badan pada bayi dan lingkar kepala bayi yang hasilnya ditampilkan pada display yang menyimpulkan bayi tersebut termasuk kategori gizi baik atau masuk ke kategori bayi dengan gizi buruk. Jadi display akan mencantumkan indeks bayi, apakah bayi tersebut normal sehat atau tidak normal (bergizi buruk).

Sistem Kerja Alat Monitoring Gizi Buruk Pada Bayi
Pada alat yang dirancang ini digunakan untuk melakukan penimbangan bayi digital, dimana timbangan digital itu sendiri merupakan alat yang digunakan sebagai pengukuran untuk mengukur suatu berat atau beban maupun massa pada suatu zat. Skala digital pada alat ini digunakan dengan berbagai tujuan mulai dari berat bayi, tinggi dan diameter kepalanya. Skala digital sangat bervariasi namun berdasarkan tujuan yang digunakannya. Timbangan yang sering digunakan untuk mengukur suatu berat umumnya tidak perlu tepat sebagai perbedaan antar gram dengan beberapa lainnya. Timbangan pada umumnya digunakan untuk pengaturan laboratorium khususnya digunakan pada kegiatan laboratorium kimia, fisika dan penelitian medis harus sangat akurat.
Dan dengan alat ini yang dibantu dengan 2 sensor yaitu sensor load cell dan sensor ultrasonik, dan komponen lainnya seperti LCD dan Arduino Nano. Untuk pengukuran berat badan bayi adalah dengan menggunakan sensor load cell yang terhubung dengan modul hx711, hx711 itu sendiri berfungsi untuk mengondisikan sinyal analog dari sensor load cell sekaligus mengkonversikannya menjadi sinyal digital, kemudian agar data yang berasal dari sensor dapat diterima dan diolah oleh arduino nano ,
Kemudian yang kedua adalah sensor ultrasonic yg berfungsi mengukur suatu objek. Kisaran jarak yang dapat diukur sekitar 2-450 cm, dan dalam timbangan digunakan untuk mengetahui informasi tinggi badan pada bayi dengan pengukurannya yaitu pada asli wadahnya dikurangi hasil ukuran asli ultrasonik, dan ukuran diameter kepala bayi dengan pengukurannya lebar wadah dikurangi hasil pengukuran ultrasonik bagian kanan kemudian ditambah ultrasonik bagian kiri, lalu untuk semua hasil penimbangan pada kedua sensor tersebut akan ditampilkan pada LCD I2C.

Alat dan komponen yang diperlukan dalam Pembuatan Alat Otomasi Monitoring Gizi Buruk Pada Bayi

ARDUINO NANO 1 BUAH

Arduino merupakan sebuah platform dari physical computing yang bersifat open source. Arduino tidak hanya sekedar sebuah alat pengembang, tetapi merupakan kombinasi dari hardware, bahasa pemrogaman dan Integrated Development Environment (IDE) yang canggih IDE adalah sebuah software yang berperan untuk menulis program, meng-compile menjadi kode biner dan mengupload ke dalam memory microcontroler.
Arduino Nano adalah salah satu board mikrokontroler yang berukuran kecil, lengkap dan mendukung penggunaan breadboard. Arduino Nano diciptakan dengan basis microcontroler ATmega328 (untuk Arduino Nano versi 3.x) atau Atmega 16(untuk Arduino versi 2.x). Arduino Nano kurang lebih memiliki fungsi yang sama dengan Arduino Duemilanove, tetapi dalam paket yang berbeda. ArduinoNano tidak menyertakan colokan DC berjenis Barrel Jack, dan dihubungkan ke komputer menggunakan port USB Mini-B. Arduino Nano dirancang dan diproduksi oleh perusahaan Gravitecth.
• Konfigurasi pin Arduino Nano.Arduino Nano memiliki 30 Pin.
Berikut Konfigurasi pin Arduino Nano:
1. VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya digital.
2. GND merupakan pin ground untuk catu daya digital.
3. AREF merupakan Referensi tegangan untuk input analog. Digunakan dengan fungsi analogReference().
4. RESET merupakan Jalur LOW ini digunakan untuk me-reset (menghidupkan ulang) mikrokontroler. Biasanya digunakan untuk menambahkan tombol reset pada shield yang menghalangi papan utama Arduino
5. Serial RX (0) merupakan pin sebagai penerima TTL data serial.
6. Serial TX (1) merupakan pin sebagai pengirim TT data serial.
7. External Interrupt (Interupsi Eksternal) merupakan pin yang dapat dikonfigurasi untuk memicu sebuah interupsi pada nilai yang rendah, meningkat atau menurun, atau perubahan nilai.
8. Output PWM 8 Bit merupakan pin yang berfungsi untuk dataanalogWrite().
9. SPI merupakan pin yang berfungsi sebagai pendukung komunikasi.
10. LED merupakan pin yang berfungsi sebagai pin yag diset bernilai
11. HIGH, maka LED akan menyala, ketika pin diset bernilai LOW maka LED padam. LED Tersedia secara built-in pada papan Arduino Nano.
12. Input Analog (A0-A7) merupakan pin yang berfungsi sebagi pin yang dapat diukur/diatur dari mulai Ground sampai dengan 5 Volt, juga memungkinkan untuk mengubah titik jangkauan tertinggi atau terendah mereka menggunakan fungsi analog Reference().
• Spesifikasi Arduino
Berikut ini adalah spesifikasi yang dimiliki oleh Arduino Nano:
1. Chip Mikrokontroller menggunakan ATmega328p atau Atmega168.
2. Tegangan operasi sebesar 5volt.
3. Tegangan input (yang disarankan) sebesar 7volt – 12 volt.
4. Terdapat pin digital I/O 14 buah dan 6 diantaranya sebagai output PWM.
5. 8 Pin Input Analog.
6. 40 Ma Arus DC per pin I/O
7. Flash Memory16KB (Atmega168) atau 32KB (Atmega328) 2KB digunakan oleh Bootloader.
8. 1 KbyteSRAM (Atmega168) atau 2 Kbyte 32KB (Atmega328).
9. 512 Byte EEPROM (Atmega168) atau 1 Kbyte (Atmega328).
10. 16MHz Clock Speed.
11. Ukuran 1.85cm x 4.3cm.

SENSOR ULTRASONIC 3 BUAH

Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor yang berfungsi untuk mengubah
besaran fisis (bunyi) menjadi besaran listrik dan sebaliknya. Cara kerja sensor ini
didasarkan pada prinsip dari pantulan suatu gelombang suara sehingga dapat
dipakai untuk menafsirkan eksistensi (jarak) suatu benda dengan frekuensi tertentu.
Disebut sebagai sensor ultrasonik karena sensor ini menggunakan gelombang
ultrasonik (bunyi ultrasonik).
Gelombang ultrasonik adalah gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi
sangat tinggi yaitu 20.000 Hz. Bunyi ultrasonik tidak dapat di dengar oleh telinga
manusia. Bunyi ultrasonik dapat didengar oleh anjing, kucing, kelelawar, dan lumbalumba. Bunyi ultrasonik nisa merambat melalui zat padat, cair dan gas. Reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat padat hampir sama dengan reflektivitas bunyi ultrasonik di permukaan zat cair. Akan tetapi, gelombang bunyi ultrasonik akan diserap oleh tekstil dan busa. Pada sensor ultrasonik, gelombang ultrasonik dibangkitkan melalui sebuah alat yang disebut dengan piezoelektrik dengan frekuensi tertentu. Piezoelektrik ini akan menghasilkan gelombang ultrasonik (umumnya berfrekuensi 40kHz) ketika sebuah osilator diterapkan pada benda tersebut. Secara umum, alat ini akan menembakkan gelombang ultrasonik menuju suatu area atau suatu target. Setelah gelombang menyentuh permukaan target, maka target akan memantulkan kembali gelombang tersebut. Gelombang pantulan dari target akan ditangkap oleh sensor, kemudian sensor menghitung selisih antara waktu pengiriman gelombang dan waktu gelombang pantul diterima.

MODUL TIMBANGAN IC HX711 1 BUAH

IC HX711 adalah modul timbangan, yang memiliki prinsip kerja mengkonversi perubahan yang terukur dalam perubahan resistansi dan mengkonversinya ke dalam besaran tegangan melalui rangkaian yang ada. Modul melakukan komunikasi dengan computer/mikrokontroller melalui TTL232.
• Prinsip kerja IC HX711
Prinsip Kerja sensor tegangan ketika mendapat tekanan beban. (sumber datasheet HX711) Ketika bagian lain yang lebih elastic mendapat tekanan, maka pada sisi lain akan mengalami perubahan regangan yang sesuai dengan yang dihasilkan oleh straingauge, hal ini terjadi karena ada gaya yang seakan melawan pada sisi lainnya. Perubahan nilai resistansi yang diakibatkan oleh perubahan gaya diubah menjadi nilai tegangan oleh rangkaian pengukuran yang ada. Dan berat dari objek yang diukur dapat diketahui dengan mengukur besarnyanilai tegangan yang timbul. Prinsip operasi rangkaian strain gauge. (sumber datasheet HX711).
• Kelebihan
Struktur yang sederhana, mudah dalam penggunaan, hasil yang stabil dan reliable, memiliki sensitivitas tinggi, dan mampu mengukur perubahan dengan cepat.
1. Aplikasi
Digunakan pada bidang aerospace, mekanik, elektrik, kimia, konstruksi, farmasi dan lainnya, digunakan untuk mengukur gaya, gaya tekanan, perpindahan, gaya tarikan, torsi, dan percepata..
2. Spesifikasi Teknis modul HX711 Weight Scale ADC Module:
a. Dua kanal ADC (dapat digunakan untuk 2 load cell) dengan keluaran TTL (serial tersinkronisasi, DI dan SCK).
b. Tegangan opersional 5 Volt DC.
c. Tegangan masukan diferensial ±40 mV pada skala penuh.
d. Akurasi data 24 bit (24-bit ADC).
e. Frekuensi pembacaan (refresh rate) 80 Hz.
f. Konsumsi arus kurang dari 10 mA.
g. Ukuran: 38 x 21 mm dengan berat 20 gram

LOAD CELL ARAU SENSOR BERAT 4 BUAH

Merupakan komponen utama pada sistem timbangan digital. Bahkan tingkat ke-akurasian suatu timbangan digital tergantung dari jenis dan tipe Load Cell yang dipakai. Load Cell merupakan sensor berat, apabila Load cell diberi beban pada inti besinya maka nilai resitansi di strain gauge akan berubah. Umumnya Load cell terdiri dari 4 buah kabel, dimana dua kabel sebagai eksitasi dan dua kabel lainnya sebagai sinyal keluaran.
Keterangan warna kabel :
a. Kabel merah adalah input tegangan sensor.
b. Kabel hitam adalah input ground sensor.
c. Kabel putih adalah output ground sensor
Load Cell adalah alat electromekanik yang biasa disebut Transducer, yaitu gaya yang bekerja berdasarkan prinsip deformasi sebuah material akibat adanya tegangan mekanis yang bekerja, kemudian merubah gaya mekanik menjadi sinyal listrik. Untuk menentukan tegangan mekanis didasarkan pada hasil penemuan Robert Hooke, bahwa hubungan antara tegangan mekanis dan deformasi yang diakibatkan disebut regangan. Regangan ini terjadi pada lapisan kulit dari material sehingga menungkinkan untuk diukur menggaunakan sensor regangan atau Strain Gauge.
• Fungsi Load cells
Pada dasarnya sangat banyak, namun dapat dikelompokkan berdasarkan jenis dari load cells itu sendiri. Fungsi load cells berdasarkan fungsinya antara lain:
a. Menimbang bench scale dengan cara dipasang pada bagian tengah platform timbangan (load cells single point).
b. Diaplikasikan pada floor scale (load cells shear beam).
c. Digunakan untuk menimbang truk dengan cara menekan bagian atasnya (loadcell compress) atau dengan menekan sisi tengahnya (load cells ended).
d. Menimbang barang yang cukup berat dengan lebih akurat (load cells S).
• Prinsip kerja Load Cell
Secara umum, cara kerja load cells mirip dengan sensor tekanan yaitu untuk mengukur tekanan suatu zat. Beban yang diberikan akan mengakibatkan reaksi terhadap elemen logam pada load cells sehingga mengakibatkan perubahan bentuk secara elastis. Sedangkan, gaya yang ditimbulkan oleh regangan tersebut kemudian dikonversikan ke dalam sinyal listrik oleh strain gauge.

LCD 16X2 SEBANYAK 2 BUAH

LCD (Liquid Crystal Display) adalah suatu jenis media tampil yang menggunakan kristal cair sebagai penampil utama. koneksi LCD I2C lebih ngirit bin hemat pin. Jika tanpa I2C maka sebuah LCD text akan memerlukan 6 pin Arduino (RS, E, D4, D5, D6, D7), sedangkan jika memakai koneksi I2C cukup 2 pin saja : SDA dan SCL. Kapan kita memerlukan koneksi I2C ? ya ketika pada aplikasi Arduino jumlah pin tidak cukup untuk sambungan LCD secara normal maka kita perlu memakai modul tambahan yaitu modul Backpack I2C Module LCD.
GND : terhubung dengan GND Arduino
VCC : terhubung dengan 5V
SDA : terhubung dengan pin SDA (A4)
SCL : terhubung dengan pin SCL (A5)
Jumper backlight berfungsi untuk memilih apakah LED backlight (LED lampu latar LCD) nyala atau padam (opsional). Jika ingin LED nyala maka jumper pada posisi ON (terpasang). A0, A1, A2 untuk pemilihan address (alamat) dari I2C. Pada kondisi default (tidak terhubung antara A0,A1,A2) maka alamatnya 0x27.

Diagram Blok Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Adapun Diagram Blok alat otomasi monitoring gizi pada bayi atau timbangan digital bayi adalah sebagai berikut :

Flowchart Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Adapun Flowchart Timbangan bayi digital atau alat otomasi monitoring gizi pada bayi adalah sebagai berikut :

Schematics Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Adapun Schematics Timbangan bayi digital atau alat otomasi monitoring gizi pada bayi adalah sebagai berikut :

PCB Board Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Adapun PCB Board Timbangan bayi digital atau alat otomasi monitoring gizi pada bayi adalah sebagai berikut :

Koneksi dengan Arduino :
Koneksi Load Cell ke HX711 dengan Arduino Nano

Koneksi LCD dengan Arduino

Koneksi Sensor Ultrasonic dengan Arduino

PEMROGRAMAN CODING DENGAN BAHASA C++ SOURCE CODE

#include “HX711.h”
#include <Wire.h>
#include <LiquidCrystal_I2C.h>

LiquidCrystal_I2C lcd(0x27, 16, 2);

#define DOUT A3
#define CLK A2

HX711 scale;
float calibration_factor = -15;
float berat;

//————————-ULTRASONIC SENSOR———————————-

#define echoPin 8
#define trigPin 9
#define echo2Pin 5
#define trig2Pin 4
#define echo3Pin 7
#define trig3Pin 6

long duration,duration2,duration3;
float distance,distance2,distance3;

int t;
//—————————————————————————-

//————————-Counter Umur—————————————
const int buttonMasuk = 11;
const int buttonKeluar = 10;
int Penghitung = 0;
int statusMasuk = 0;
int statusKeluar = 0;
int statusTerakhir = 0;
int maksimal = 20;
int status_umur=0;

void setup() {
scale.begin(DOUT, CLK);
Serial.begin(9600);
scale.set_scale();
scale.tare(50);

lcd.init();
lcd.backlight();

pinMode(buttonMasuk, INPUT_PULLUP);
pinMode(buttonKeluar, INPUT_PULLUP);

pinMode(trigPin, OUTPUT);
pinMode(echoPin, INPUT);
pinMode(trig2Pin, OUTPUT);
pinMode(echo2Pin, INPUT);
pinMode(trig3Pin, OUTPUT);
pinMode(echo3Pin, INPUT);
}

void weight() {
scale.set_scale(calibration_factor);
berat = scale.get_units(25);
Serial.print(“Berat: “);
Serial.println(berat);
lcd.setCursor(0, 0);
lcd.print(“BB:”);
lcd.print(berat,1);
lcd.print(“g”);
}

void tinggi() {
digitalWrite(trigPin, LOW);
delayMicroseconds(2);
digitalWrite(trigPin, HIGH);
delayMicroseconds(10);
digitalWrite(trigPin, LOW);
duration = pulseIn(echoPin, HIGH);
distance = duration * 0.034 / 2;

//Ganti 150 Dengan ukuran panjang timbangan hasil pengukuran ultrasonic
t = 59 – distance;
Serial.print(“Tinggi: “);
Serial.print(t);
Serial.println(” cm”);

lcd.setCursor(0,1);
lcd.print(“T:”);
lcd.print(t);
lcd.print(“cm”);

}

void kanan() {
digitalWrite(trig2Pin, LOW);
delayMicroseconds(2);
digitalWrite(trig2Pin, HIGH);
delayMicroseconds(10);
digitalWrite(trig2Pin, LOW);
duration2 = pulseIn(echo2Pin, HIGH);
distance2 = duration2 * 0.034 / 2;
Serial.print (“kanan : “);
Serial.println(distance2);
}

void kiri() {
digitalWrite(trig3Pin, LOW);
delayMicroseconds(2);
digitalWrite(trig3Pin, HIGH);
delayMicroseconds(10);
digitalWrite(trig3Pin, LOW);
duration3 = pulseIn(echo3Pin, HIGH);
distance3 = duration3 * 0.034 / 2;
Serial.print (“kiri : “);
Serial.println(distance3);
}

void itung(){
statusMasuk = digitalRead(buttonMasuk);
if (statusMasuk != statusTerakhir) {
if (statusMasuk == LOW){
Penghitung++;
}
delay(50);
}
statusTerakhir = statusMasuk;
statusKeluar = digitalRead(buttonKeluar);
if (statusKeluar != statusTerakhir) {
if (statusKeluar == LOW){
Penghitung–;
}
delay(50);
}
statusTerakhir = statusKeluar;

lcd.setCursor(10,0);
lcd.print(“Umur:”);
lcd.print(Penghitung);
Serial.println(Penghitung);
}

void loop() {
weight();
tinggi();
kanan();
kiri();
itung();

//Ganti 38.2 dengan ukuran lebar timbangan hasil pengukuran ultrasonic
float ukur = 38.2 – (distance2 + distance3);
Serial.print (“Diameter kepala : “);
Serial.println(ukur);
lcd.setCursor(8,1);
lcd.print(“D:”);
lcd.print(ukur);
lcd.print(“cm”);

float keliling = 3.14*(ukur);
Serial.print (“Keliling Lingkaran : “);
Serial.println(keliling);

delay(1200);
lcd.clear();

status_umur = Penghitung;

if (status_umur == 0) {
if ((t >= 45.4 && t <= 55.6) && (berat >= 2400 && berat <= 3900)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
}else if (status_umur == 1) {
if ((t >= 49.8 && t <= 60.6) && (berat >= 3200 && berat <= 5100)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 2) {
if ((t >= 53 && t <= 64.4) && (berat >= 3900 && berat <= 5800)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 3) {
if ((t >= 55.6 && t <= 67.6) && (berat >= 4500 && berat <= 7200)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 4) {
if ((t >= 57.8 && t <= 70.1) && (berat >= 5000 && berat <= 7800)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 5) {
if ((t >= 59.6 && t >= 72.2) && (berat >= 5400 && berat <= 8400)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 6) {
if ((t >= 61.2 && t <= 74) && (berat >= 5700 && berat <= 8800)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 7) {
if ((t >= 62.7 && t <= 75.5) && (berat >= 6000 && berat <= 9200)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
} else if (status_umur == 8) {
if ((t >= 64 && t <= 77.2) && (berat >= 6300 && berat <= 9600)) {
Serial.println(“Bayi Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Bayi Normal”);
} else {
Serial.println(“Tidak Normal”);
lcd.setCursor(2, 0);
lcd.print(“Tidak Normal”);
}
ear();

}

PROSES CARA KERJA JALANNYA ALAT MONITORING GIZI PADA BAYI ATAU TIMBANGAN DIGITAL UNTUK BAYI:

1. Sambungkan adaptor 12V ke stop kontak
2. Ketika sudah aktif semua pada layar LCD akan mencul tampilan angka 0.
3. Letakkan bayi ke Timbangan
4. Lalu sensor akan langsung membaca.
5. Kemudian nilai berat badan, tinggi, dan diameter kepala bayi akan muncul pada layar LCD.

GAMBAR DESAIN MEKANIK ALAT MONITORING GIZI BAYI ATAU TIMBANGAN DIGITAL UNTUK BAYI:

Desain Mekanik Tampak Atas

Desain Mekanik Tampak Belakang

Desain Mekanik Tampak Depan

Desain Mekanik Tampak dari Kanan

Desain Mekanik Tampka Kiri

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi dengan arduino. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar khususnya deteksi dini gizi bayi Indonesia.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi kami siap membuatkannya. silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

Baca Juga :

Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android

Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 

 


  • 0

Pembuatan Alat Penyiram Tanaman Otomatis dengan Kontrol Internet

Pada saat ini banyak hal kegiatan baik pekerjaan rumah dan kantor atau pabrik yang bisa dilakukan secara otomatis. Salah satu pembuatan alat otomasi yang kami bahas disini adalah alat penyiraman, pengembunan, lampu, blower yang dipasang pada kebun ruang tertutup. Namun alat ini dapat pula digunakan untuk penyiraman dan pengembunan pada kebun terbuka. Sedangkan kebun tertutup yang kami pasang alat otomasi ini adalah kebun anggrek. Kami menyebut alat ini adalah Water Planting Otomation atau alat otomasi untuk penyiraman tanaman di kebun anggrek dengan kontrol internet wifi. Satu paket alat yang kami buat ini meliputi software, hardware, pembuatan APK (untuk kontrol melalui jaringan internet WiFi) dan teknis pemasangan alat-alat nya di kebun tersebut. Output Water Planting Otomation atau alat penyiram tanaman otomatis seperti dibawah ini :

misting

sprinkel

blower

lampu

 

Sedangkan detailsnya dapat saya sampaikan sebagai berikut :

Siste Kerja Alat Water Planting Otomation atau Alat Penyiram Tanaman Otomatis
Pada alat yang telah dirancang ini digunakan untuk melakukan otomisasi pada sebuah ruang tanaman. Alat ini dapat bekerja secara otomatis dengan bantuan sensor dan juga dapat dikontrol secara manual melalui aplikasi. Untuk kontrol secara manual system harus memenuhi persyaratan terlebih dahulu, yaitu system dan smartphone yang telah terinstall aplikasi harus terhubung dengan koneksi internet.
Pada alat ini menggunakan 3 buah sensor yaitu DHT11, LDR, dan Soil Moisture dengan 4 buah parameter pengukuran yang dihasilkan oleh sensor – sensor tersebut. 4 parameter tersebut antara lain adalah pengukuran cahaya ruangan yang dilakukan oleh sensor LDR, dimana ketika sensor LDR mendeteksi cahaya pada ruangan adalah “gelap” maka akan mengirimkan data pada NodeMCU yang kemudian akan mengaktifkan Relay 1 yang terlah terhubung dengan lampu agar menyala.
Kemudian parameter yang kedua adalah kelembaban tanah yang diukur dengan menggunakan sensor Soil Moisture. Pada pengukuran sensor Soil Moisture ini output yang dihasilkan oleh sensor berupa data analog yang kemudian diolah NodeMCU untuk dirubah dalam satuan persen. Ketika output sensor yang terbaca atau kelembaban tanah yang terbaca adalah kurang dari 50% maka akan mengaktifkan Relay 3 yang kemudian akan menyalakan Pompa penyiraman. Ketika output sensor Soil Moisture yang telah terbaca lebih dari 65% maka akan menonaktifkan pompa penyiraman.
Selanjutnya untuk parameter ketiga dan keempat adalah Suhu ruangan dan kelembaban udara, kedua parameter ini diukur menggunakan sensor DHT11, dimana output yang dihasilkan oleh sensor DHT11 langsung merupakan Suhu ruangan dengan satuan derajat celcius dan juga kelembaban ruangan dengan satuan persen. Ketika sensor DHT11 mengukur dan menghasilkan suhu diatas 35ºC maka akan mengaktifkan Relay 2 dan kemudian mengaktifkan blower untuk menurunkan suhu ruangan tersebut sampai dibawah 33ºC. Dan ketika sensor DHT11 menghasilkan pengukuran kelembaban ruangan kurang dari 51% maka akan mengaktifkan Relay 4 dan kemudian alat spray air akan aktif sampai kelembaban ruangan tersebut naik ke 64%.
Semua data yang telah diproses oleh NodeMCU yaitu hasil pembacaan dan pengolahan data sensor akan dikirimkan kesebuah database penyimpanan ketika NodeMCU telah terhubung dengan koneksi Internet. Dari database tersebut data akan diolah kembali untuk dikirimkan pada aplikasi smartphone. Pada aplikasi smartphone ini digunakan untuk monitoring dan kontrol output dengan mode manual.

Alat Komponen yang digunakan :

  • 1 Buah 1 Buah Sensor Soil Moisture
  • 1 Buah Modul Sensor Cahaya LDR
  • 1 Buah Nodemcu
  • 1 Buah Relay, 4 channel 5V
  • 1 Buah Sensor Temperatur DHT11

sensor kelembaban tanah

sensor cahaya LDR

Nodemcu

Relay 4 Channel

Sensor Temperatur DHT11

  • Sensor Soil Moisture (Kelembaban Tanah)

Soil Moisture Sensor merupakan module untuk mendeteksi kelembaban tanah, yang dapat diakses menggunakan microcontroller seperti arduino. Sensor kelembaban tanah ini dapat dimanfaatkan pada sistem pertanian, perkebunan, maupun sistem hidroponik mnggunakan hidroton.

Soil Moisture Sensor dapat digunakan untuk sistem penyiraman otomatis atau untuk memantau kelembaban tanah tanaman secara offline maupun online. Sensor yang dijual pasaran mempunyai 2 module dalam paket penjualannya, yaitu sensor untuk deteksi kelembaban, dan module elektroniknya sebagai amplifier sinyal.

sensor kelembaban tanah

Pada saat kondisi tanah :
Basah : tegangan output akan turun, prosentase akan terlihat di apk (aplikasi android) pada tingkat kebasahan tertentu, alat penyiraman atau yang biasa disebut sprinkel akan berhenti menyiramkan air secara otomatis.
Kering : tegangan output akan naik, prosentase tingkat kekeringan akan terbaca di apk (aplikasi android) pada tingkat kekeringan tertentu sehingga alat penyiraman atau sprinkel akan menyala untuk menyiramkan air.

 

 

 

 

  • Modul Sensor Cahaya LDR

sensor cahaya LDR

 

Modul sensor cahaya ini memudahkan anda dalam menggunakan sensor LDR (Light Dependent Resistor) untuk mengukur intensitas cahaya. Modul LDR ini memiliki pin output analog dan pin output digital dengan label AO dan DO pada PCB. Nilai resistansi LDR pada pin analog akan meningkat apabila intensitas cahaya meningkat dan menurun ketika intensitas cahaya semakin gelap. Pada pin digital, pada batas tertentu DO akan high atau low, yang dikendalikan sensitivitas nya menggunakan onboard potensiometer
• Input Voltage: DC 3.3V – 5V
• Output: Digital – Sensitivitas bisa diatur, dan analog
• Ukuran PCB : 33 mm x 15 mm

Cara kerja sensor pada alat water planting otomation yang kami buat adalah untuk menyalakan dan mematikan lampu di kebun secara otomatis. Ketika sensor cahaya LDR mendeteksi cahaya, maka lampu akan mati secara otomatis dan sebaliknya jika sensor mendeteksi ruangan sekitar gelap, maka lampu akan menyala secara otomatis.

  • Relay 5V 4 channel

Modul relay adalah salah satu piranti yang beroperasi berdasarkan prinsip elektromagnetik untuk menggerakkan kontaktor guna memindahkan posisi ON ke OFF atau sebaliknya dengan memanfaatkan tenaga listrik. Peristiwa tertutup dan terbukanya kontaktor ini terjadi akibat adanya efek induksi magnet yang timbul dari kumparan induksi listrik. Perbedaan yang paling mendasar antara relay dan sakelar adalah pada saat pemindahan dari posisi ON ke OFF. Relay melakukan pemindahan-nya secara otomatis dengan arus listrik, sedangkan sakelar dilakukan dengan cara manual.

Relay 4 Channel

Pada dasarnya, fungsi modul relay adalah sebagai saklar elektrik. Dimana ia akan bekerja secara otomatis berdasarkan perintah logika yang diberikan. Kebanyakan, relay 5 volt DC digunakan untuk membuat project yang salah satu komponennya butuh tegangan tinggi atau yang sifatnya AC (Alternating Current).
Sedangkan kegunaan relay secara lebih spesifik adalah sebagai berikut:
1. Menjalankan fungsi logika dari mikrokontroler Arduino.
2. Sarana untuk mengendalikan tegangan tinggi hanya dengan menggunakan tegangan rendah.
3. Meminimalkan terjadinya penurunan tegangan.
4. Memungkinkan penggunaan fungsi penundaan waktu atau fungsi time delay function.
5. Melindungi komponen lainnya dari kelebihan tegangan penyebab korsleting.
6. Menyederhanakan rangkaian agar lebih ringkas.

Secara ringkas relay pada alat water planting otomation atau alat penyiram tanaman otomatis adalah sebagai pengubah tegangan dan kontrol terhadap 4 output yitu penyiraman, pengembunan, lampu dan blower.

 

  • NodeMCU

NodeMCU

 

NodeMCU merupakan sebuah open source platform IoT dan pengembangan kit yang menggunakan bahasa pemrograman Lua untuk membantu dalam membuat prototype produk IoT atau bisa dengan memakai sketch dengan adruino IDE. Pengembangan kit ini didasarkan pada modul ESP8266, yang mengintegrasikan GPIO, PWM (Pulse Width Modulation), IIC, 1-Wire dan ADC (Analog to Digital Converter) semua dalam satu board. GPIO NodeMCU. NodeMCU berukuran panjang 4.83cm, lebar 2.54cm, dan berat 7 gram. Board ini sudah dilengkapi dengan fitur WiFi dan Firmwarenya yang bersifat opensource.

 

 

  • Sensor Temperature DHT11

Sensor Temperatur DHT11

merupakan module sensor yang berfungsi untuk mensensing objek suhu dan kelembaban yang memiliki output tegangan analog yang dapat diolah lebih lanjut menggunakan mikrokontroler. Module sensor ini tergolong kedalam elemen resistif seperti perangkat pengukur suhu seperti contohnya yaitu NTC. Kelebihan dari module sensor ini dibanding module sensor lainnya yaitu dari segi kualitas pembacaan data sensing yang lebih responsif yang memliki kecepatan dalam hal sensing objek suhu dan kelembaban, dan data yang terbaca tidak mudah terinterverensi. Sensor DHT11 pada umumya memiliki fitur kalibrasi nilai pembacaan suhu dan kelembaban yang cukup akurat. Penyimpanan data kalibrasi tersebut terdapat pada memori program OTP yang disebut juga dengan nama koefisien kalibrasi.Sensor ini memiliki 4 kaki pin, dan terdapat juga sensor DHT11 dengan breakout PCB yang terdapat hanya memilik 3 kaki pin seperti gambar disamping.

 

DIAGRAM BLOK ALAT PENYIRAM TANAMAN OTOMATIS

Berikut dibawah ini adalah diagram blok Alat Penyiram Tanaman Otomatis atau Water Planting Otomation :

Diagram Blok Water Planting Otomation

 

SCHEMATICS ALAT PENYIRAM TANAMAN OTOMATIS

Berikut di bawah ini adalah gambar skematik water planting otomation atau alat penyiram tanaman otomatis :

schematics alat penyiram tanaman otomatis

Berikut ini adalah desain cetak PCB untuk alat penyiram tanaman otomatis :

PCB desain alat penyiram tanaman otomatis

 

KONEKSI SENSOR DENGAN NODEMCU :

Koneksi Soil Moisture dengan Nodemcu

 

 

 

 

Koneksi DHT11 dengan Nodemcu

 

 

 

 

Koneksi Modul Sensor LDR dengan Nodemcu

 

 

 

 

Koneksi Relay dengan Nodemcu

 

 

 

 

 

 

Source Code (Kode Pemrograman)

Untuk pengerjaan pemrograman alat penyiram tanaman otomatis atau water planting otomation, kami menggunakan bahasa C++ sebagai bahasa pemrograman. Adapan details pemrograman alat penyiram tanaman otomatis adalah sebagai berikut :

#include <ESP8266WiFi.h>

 

#ifndef STASSID

#define STASSID “(((Hotspot_TPHP)))”

#define STAPSK  “smkn1pandakbantul”

#endif

 

const char* ssid     = STASSID;

const char* password = STAPSK;

 

#include “FirebaseESP8266.h”

#define FIREBASE_HOST “water-planting-automation-default-rtdb.firebaseio.com”

#define FIREBASE_AUTH “rcLTo1dbvjujvZ86igD6EsU0wZJLpskeDyrhX5as”

 

FirebaseData firebaseData;

 

#include “DHT.h”

#define DHTPIN D3

#define DHTTYPE DHT11

DHT dht(DHTPIN, DHTTYPE);

 

String status_relay1 = “”;

String status_relay2 = “”;

String status_relay3 = “”;

String status_relay4 = “”;

 

#include <Wire.h>

#include <LiquidCrystal_I2C.h>

LiquidCrystal_I2C lcd(0x27, 16, 2);

 

void setup() {

dht.begin();

Serial.begin(115200);

lcd.init();

lcd.backlight();

Serial.println();

Serial.println();

Serial.print(“Connecting to “);

Serial.println(ssid);

 

WiFi.mode(WIFI_STA);

WiFi.begin(ssid, password);

 

const long timeout = 15000;

long _start = millis();

while ((WiFi.status() != WL_CONNECTED) && (millis() – _start < timeout)) {

Serial.print(“.”);

lcd.clear();

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Connecting…”);

delay(500);

}

 

Serial.println();

 

if (WiFi.status() == WL_CONNECTED) {

Serial.println(“CONNECTED”);

Serial.println(“IP: ” + WiFi.localIP().toString());

lcd.clear();

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Connected”);

delay(500);

} else {

Serial.println(“WiFi Tidak Terhubung”);

lcd.clear();

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“WiFi Not”);

lcd.setCursor(0, 1);

lcd.print(“Connected”);

delay(500);

}

 

lcd.clear();

lcd.setCursor(1, 0);

lcd.print(“WATER PLANTING”);

lcd.setCursor(3, 1);

lcd.print(“AUTOMATION”);

delay(500);

lcd.clear();

 

Firebase.begin(FIREBASE_HOST, FIREBASE_AUTH);

 

pinMode(A0, INPUT);

pinMode(D0, INPUT);

pinMode(D5, OUTPUT);

pinMode(D6, OUTPUT);

pinMode(D7, OUTPUT);

pinMode(D8, OUTPUT);

digitalWrite(D5, 1);

digitalWrite(D6, 1);

digitalWrite(D7, 1);

digitalWrite(D8, 1);

}

 

 

void LDR_Sensor() {

String Cahaya = “”;

int dataLDR = digitalRead(D0);

Serial.print(“LDR:”); Serial.print(dataLDR); Serial.print(”  “);

if (dataLDR == 1) {

Cahaya = “Dark”;

digitalWrite(D5, 0);

Firebase.setString(firebaseData, “relay1”, “1”);

} else {

Cahaya = “Bright”;

digitalWrite(D5, 1);

Firebase.setString(firebaseData, “relay1”, “0”);

}

Serial.print(“Kondisi Cahaya: “); Serial.println(Cahaya);

Firebase.setString(firebaseData, “Cahaya”, Cahaya);

}

 

void bacaLDR_Sensor() {

String Cahaya = “”;

int dataLDR = digitalRead(D0);

Serial.print(“LDR:”); Serial.print(dataLDR); Serial.print(”  “);

if (dataLDR == 1) {

Cahaya = “Dark”;

} else {

Cahaya = “Bright”;

}

Serial.print(“Kondisi Cahaya: “); Serial.println(Cahaya);

Firebase.setString(firebaseData, “Cahaya”, Cahaya);

}

 

void Soil_Sensor() {

int dataSoil = analogRead(A0);

dataSoil = map(dataSoil, 0, 1023, 100, 0);

lcd.setCursor(0, 1);

lcd.print(“Soil :”); lcd.print(dataSoil);

lcd.setCursor(8, 1);

lcd.print(“%”);

Serial.print(“Kelembaban : “); Serial.print(dataSoil); Serial.println(“%”);

Firebase.setFloat(firebaseData, “Soil”, dataSoil);

if (dataSoil <= 50) {

digitalWrite(D7, 0);

Firebase.setString(firebaseData, “relay3”, “1”);

} else if (dataSoil >= 65) {

digitalWrite(D7, 1);

Firebase.setString(firebaseData, “relay3”, “0”);

}

}

 

void bacaSoil_Sensor() {

int dataSoil = analogRead(A0);

dataSoil = map(dataSoil, 0, 1023, 100, 0);

lcd.setCursor(0, 1);

lcd.print(“Soil :”); lcd.print(dataSoil);

lcd.setCursor(8, 1);

lcd.print(“%”);

Serial.print(“Kelembaban : “); Serial.print(dataSoil); Serial.println(“%”);

Firebase.setFloat(firebaseData, “Soil”, dataSoil);

}

 

 

Serial.println(“Sensor DHT11 tidak terbaca !!”);

Firebase.setString(firebaseData, “Suhu”, “DHT11 Tidak terbaca…”);

Firebase.setString(firebaseData, “Humidity”, “DHT11 Tidak terbaca…”);

return;

}

else {

lcd.setCursor(10, 0);

lcd.print(“T:”); lcd.print(suhu);

lcd.setCursor(15, 0);

lcd.print(“C”);

lcd.setCursor(10, 1);

lcd.print(“H:”); lcd.print(humidity);

lcd.setCursor(15, 1);

lcd.print(“%”);

 

Serial.print(“Suhu : “);  Serial.print(suhu); Serial.print(“C”); Serial.print(” “);

Serial.print(“Humidity : “);  Serial.print(humidity); Serial.println(“%”);

}

Firebase.setInt(firebaseData, “Suhu”, suhu);

Firebase.setInt(firebaseData, “Humidity”, humidity);

}

 

void RLY1() {

if (Firebase.getString(firebaseData, “relay1”)) {

if (firebaseData.dataType() == “string”) {

status_relay1 = firebaseData.stringData();

Serial.print(“Stat Relay 1:”); Serial.print(status_relay1); Serial.print(”  “);

if (status_relay1 == “1”) {

digitalWrite (D5, 0);

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Light:”); lcd.print(“ON”);

} else if (status_relay1 == “0”) {

digitalWrite (D5, 1);

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Light:”); lcd.print(“OFF”);

}

}

}

}

 

void RLY2() {

if (Firebase.getString(firebaseData, “relay2”)) {

if (firebaseData.dataType() == “string”) {

status_relay2 = firebaseData.stringData();

Serial.print(“Stat Relay 2:”); Serial.print(status_relay2); Serial.print(”  “);

if (status_relay2 == “1”) {

digitalWrite (D6, 0);

} else if (status_relay2 == “0”) {

digitalWrite (D6, 1);

}

}

}

}

 

void RLY3() {

if (Firebase.getString(firebaseData, “relay3”)) {

if (firebaseData.dataType() == “string”) {

status_relay3 = firebaseData.stringData();

Serial.print(“Stat Relay 3:”); Serial.print(status_relay3); Serial.print(”  “);

if (status_relay3 == “1”) {

digitalWrite (D7, 0);

} else if (status_relay3 == “0”) {

digitalWrite (D7, 1);

}

}

}

}

 

void RLY4() {

if (Firebase.getString(firebaseData, “relay4”)) {

if (firebaseData.dataType() == “string”) {

status_relay4 = firebaseData.stringData();

Serial.print(“Stat Relay 4:”); Serial.print(status_relay4); Serial.println(”  “);

if (status_relay4 == “1”) {

digitalWrite (D8, 0);

} else if (status_relay4 == “0”) {

digitalWrite (D8, 1);

}

}

}

}

 

void cekRelay() {

int Re1 = digitalRead(D5);

int Re2 = digitalRead(D6);

int Re3 = digitalRead(D7);

int Re4 = digitalRead(D8);

String statRe1, statRe2, statRe3, statRe4;

if (Re1 == 0) {

statRe1 = “Relay 1: ON “;

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Light:”); lcd.print(“ON”);

} else if (Re1 == 1) {

statRe1 = “Relay 1: OFF “;

lcd.setCursor(0, 0);

lcd.print(“Light:”); lcd.print(“OFF”);

}

if (Re2 == 0) {

statRe2 = “Relay 2: ON “;

} else if (Re2 == 1) {

statRe2 = “Relay 2: OFF “;

}

if (Re3 == 0) {

statRe3 = “Relay 3: ON “;

} else if (Re3 = 1) {

statRe3 = “Relay 3: OFF “;

}

 

CARA KERJA ALAT PENYIRAM TANAMAN OTOMATIS

  1. Download Aplikasi (Apk) SISIRAM atau Alat Penyiram Tanaman Otomatis yang sudah kami buat, dan kemudian buka di HP Android anda

Kondisi saat aplikasi dengan mode otomatis makan tekan auto pada menu mode.

Kondisi saat aplikasi dengan mode manual jika ingin mematikan salah satu manual control yg diinginkan maka menekan off.

Berikut ini adalah fungsi setiap menu pada aplikasi alat penyiram tanaman otomatis :
a. Pada Lamp di Manual Control adalah untuk menghidupkan lampu dan perintah menyala atau mati akan muncul di Light Intensity.
b. Pada Fan di Manual Control adalah untuk menghidupkan blower dan perintah akan muncul di Temperature
c. Pada Pump di Manual Control adalah untuk menghidupkan pompa penyiraman dan perintah akan muncul di Soil Moisture
d. Pada Misting di Manual Control untuk menyalakan spray air sampai kelembaban ruangan naik, perintah akan muncul di Hummidity

2. Ketika sudah aktif semua pada layar LCD akan muncul tampilannya.
3. Lalu sensor akan langsung membaca kondisi sekitar.
4. Ketika sensor LDR mendeteksi cahaya pada ruangan adalah “gelap” maka akan mengaktifkan Relay 1 kemudian lampu menyala. Ketika output sensor yang terbaca atau kelembaban tanah yang terbaca adalah kurang dari 50% maka akan mengaktifkan Relay 3 yang kemudian akan menyalakan Pompa penyiraman. Ketika sensor DHT11 mengukur dan menghasilkan suhu diatas 35ºC maka akan mengaktifkan Relay 2 yang kemudian blower akan menurunkan suhu ruangan tersebut sampai dibawah 33ºC. Dan ketika sensor DHT11 menghasilkan pengukuran kelembaban ruangan kurang dari 51% maka Relay 4 aktif dan kemudian mengaktifkan alat spray air, sampai kelembaban ruangan tersebut naik ke 64%.

Demikian gambaran secara lengkap cara pembuatan alat penyiram tanaman otomatis berbasis arduino dengan koneksi internet wifi. Alat ini dapat diterapkan diberbagai sektor kehidupan manusia, dengan tujuan mempermudah dan mengotomasi alat alat manual disekitar kita.

Kami menerima dan membuat project project pembuatan alat otomasi lain dengan menggunakan microcontroller arduino dan Internet of Things. Apabila ada yang kurang jelas mengenai pembuatan alat ini atau apabila ada yang ingin dibuatkan alat penyiram tanaman otomatis pada kebun, alat penyiram tanaman otomatis pada green house, alat penyiram tanaman otomatis pada taman, atau aplikasi otomasi dibidang peternakan, rumah dan perkantoran kami siap membuatkannya. silahkan klik link gambar whatsapp dibawah ini untuk informasi lebih lanjut:

 

 

Baca Juga :

Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android

Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 

 

 


  • 0

Cara Membuat Alarm Kebakaran Dengan Sensor Api & Sensor Gas dengan Arduino

 

Pada pertemuan kali ini, kita akan mengulas Cara Membuat Alarm Kebakaran Dengan Sensor Api dan Sensor Gas dengan Arduino Nano. Penerapan secara riil dapat dilakukan dirumah atau perkantoran dimana kondisinya adalah Arduino akan membaca sensor api dan sensor gas (MQ2). Jika salah satu sensor mendeteksi adanya kebakaran atau kebocoran gas, maka sistem akan mengaktifkan motor DC. Untuk notofikasi hal tersebut, buzzer akan menyala sebagai tanda adanya kebakaran dan kebocoran gas. Diharapkan dengan alat ini, rumah dan kantor kita akan aman dari musibah kebakaran. Berikut ini adalah beberapa hal details mengenai cara membuat alarm kebakaran dengan sensor api dan sensor gas menggunakan arduino.

1. Sistem Kerja Alat. Adapun sistem kerja alarm kebakaran dengan sensor api dan sensor gas adalah sebagai berikut:

Arduino akan membaca Sensor Api dan Sensor Gas (MQ2). Jika salah satu sensor mendeteksi adanya kebakaran atau kebocoran gas maka sistem akan mengaktifkan motor dc. Untuk notifikasi hal tersebut buzzer akan menyala sebagai tanda adanya kebakaran dan kebocoran gas.

2. Alat yang digunakan. Adapun details komponen yang diperlukan untuk membuat alarm kebakaran dengan arduino adalah sebagai berikut :

  • 1 Buah Arduino Nano
  • 1 Buah Sensor Api
  • 1 Buah Sensor Gas (MQ2)
  • 1 Buah Relay
  • 1 Buah LCD 16×2
  • 1 Buah Motor DC

 3. Diagram Blok. Details diagram blok atau alur kerja alarm kebakaran dengan arduino adalah sebagai berikut:

4. Schematics. Details schematics pembuatan alarm kebakaran dengan arduino adalah sebagai berikut :

5. Koneksi dengan Arduino :

Koneksi LCD dengan Arduino Nano

Koneksi Sensor Api


Koneksi Sensor Gas (MQ2)

 

Koneksi Output Sensor

 

5. Source Code, Pemrograman dengan bahasa C++ untuk pembuatan alat alarm kebakaran menggunakan sensor api dan sensor gas adalah sebagai berikut:

#include <LiquidCrystal.h>

LiquidCrystal lcd(7,6,5,4,3,2);

 

float MQ2;

float sensorApi;

int adc;

byte kedip;

byte keluar;

const int PIN_9=9;

const int PIN_8=8;

 

void setup(){

pinMode(PIN_9,INPUT);

pinMode(PIN_8,INPUT);

 

pinMode(8,OUTPUT);

digitalWrite(8,LOW);

pinMode(9,OUTPUT);

digitalWrite(9,LOW);

lcd.begin(16, 2);

lcd.print(“Alarm kebakaran “);

delay(2000);

lcd.clear();

lcd.print(” Tunggu sensor”);

lcd.setCursor(0, 1);

lcd.print(”    siap…”);

delay(2000);

do{

adc=(analogRead(A0));

MQ2 = adc * (5.0 / 1023.0);

}

while(MQ2 > 1.5);

lcd.clear();

}

 

void loop(){

adc=(analogRead(A0));

MQ2 = adc * (5.0 / 1023.0);

adc=(analogRead(A1));

sensorApi = adc * (5.0 / 1023.0);

lcd.setCursor(0,0);

lcd.print(“Api :”);

lcd.print(sensorApi);

lcd.print(” “);

lcd.setCursor(0,1);

lcd.print(“Asap:”);

lcd.print(MQ2);

lcd.print(”    “);

if (MQ2 > 1.2 || sensorApi<3){

lcd.setCursor(0,0);

lcd.print(” Ada Kebakaran”);

lcd.setCursor(0,1);

lcd.print(“AlarmON ValveON”);

digitalWrite(8,HIGH);

digitalWrite(9,HIGH);

delay(1000);

keluar=1;

do{

adc=(analogRead(A0));

MQ2 = adc * (5.0 / 1023.0);

adc=(analogRead(A1));

sensorApi = adc * (5.0 / 1023.0);

if(sensorApi>4 && MQ2<1)keluar=0;

}

while(keluar);

digitalWrite(8,LOW);

 

6. Jalan nya Alat, Proses kerja alarm kebakaran dan kebocoran gas dengan arduino adalah sebagai berikut :

  1. Hidupkan alat agar mengaktifkan semua perangkat
  2. Ketika sudah aktif semua, pada layar LCD akan muncul tampilan ” ALARM KEBAKARAN”
  3. Kemudian LCD akan menampilkan “TUNGGU SENSOR SIAP”
  4. Lalu sensor akan langsung membaca kondisi sekitar
  5. Ketika sensor api mendeteksi adanya kebakaran, maka buzzer akan berbunyi sebagai tanda bahwa ada kebakaran yang terjadi. Lalu motor DC atau kipas angin akan menyala. Begitu pula jika sensor gas MQ2 mendeteksi kebocoran gas, maka buzzerpun akan berbunyi sebagai tanda adanya kebocoran gas.

Alat alarm kebakaran dan kebocoran gas otomatis dengan menggunakan arduino ini bisa dikembangkan lagi dengan menggunakan kontrol atau notifikasi selain buzzer. tergantung dengan kebutuhan kita. Bisa kita kontrol notifikasi dengan bluetooth maupun jaringan koneksi internet atau wifi. Sehingga dimanapun kita berada, kita bisa memonitor kondisi rumah dan perkantoran.

Demikian penjelasan ringkas mengenai Cara Pembuatan alarm kebakaran dan kebocoran gas dengan arduino Otomatis. Apabila anda membutuhkan bantuan untuk Pembuatan Alat Otomatis menggunakan Arduino baik dengan bantuan koneksi bluetooth maupun Wifi atu dengan Internet of Things lainnya, silahkan hubungi dan klik link whatsapp dibawah ini:

 

 

Baca Juga :

Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android

Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir


  • 0

Cara membuat Alat Pendeteksi Hujan dan Lampu Otomatis dengan Arduino

Pada pertemuan kali ini, kita akan mengulas cara membuat alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis dengan Arduino Nano. Penerapan secara riil dapat dilakukan dirumah atau perkantoran dimana kondisinya adalah bila sensor mendeteksi hujan turun, maka buzzer akan menyala dan menyebabkan kondisi ruangan dalam rumah atau perkantoran menjadi gelap. Gelapnya ruangan akan dideteksi oleh sensor cahaya sehingga secara otomatis lampu dalam rumah atau perkantoran menjadi menyala. Berikut ini adalah beberapa hal details mengenai cara membuat alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis.

Berikut ini adalah video cara kerja alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis :

1. Sistem Kerja Alat Pada Alat Pendeteksi Hujan dan Lampu otomatis adalah sebagai berikut :

Sensor hujan akan mendeteksi cuaca hujan atau cerah ketika hujan terjadi dan air mengenai sensor hujan data akan dibaca oleh arduino lalu buzzer akan menyala sebagai tanda bahwa hujan turun. Sensor Cahaya (LDR) akan mendeteksi kondisi ruangan gelap atau terang yang nanti nya berfungsi untuk menyalakan lampu secara otomatis.

Alat Pendeteksi Hujan dan Lampu Otomatis dengan Arduino

2. Alat yang digunakan untuk membuat alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis adalah sebagai berikut :

  • 1 Buah Arduino Nano
  • 1 Buah Sensor Hujan
  • 1 Buah Sensor Cahaya (LDR)
  • 1 Buah Buzzer
  • 1 Buah Relay
  • 1 Buah Lampu
Alat yang digunakan

Peralatan dan Komponen yang digunakan

 

3. Diagram Blok merupakan hal penting yang menjadi dasar kita membuat suatu proyek. Diagram blok untuk membuat alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis adalah sebagai berikut:

 

4. Schematics elektronika untuk membuat alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis adalah sebagai berikut:

5. Koneksi dengan Arduino, Berikut ini adalah penjelasan mengenai koneksi dengan arduino pada pembuatan alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis.
Koneksi Sensor Hujan


 

Koneksi Sensor LDR

 

Koneksi Output Sensor

Source Code. Berikut ini Pemrograman untuk pembuatan alat pendeteksi hujan dan lampu otomatis dengan menggunakan arduino dan Bahasa C++.

const int sensor_hujan = 12;

const int LED = 13;

byte ldr = A2;

byte led = 9;

int nilai;

 

void setup () {

pinMode (sensor_hujan, INPUT);

pinMode (LED, OUTPUT);

pinMode(led, OUTPUT);

Serial.begin(9600);}

void loop() {

int kondisi_sensor = digitalRead(sensor_hujan);

if (kondisi_sensor == LOW)

digitalWrite(LED, HIGH);

else digitalWrite(LED, LOW);

delay (1000);

delay (700);

Serial.print(“Nilai LDR: “);

Serial.println(nilai);

 

if (nilai < 500) {

 

}

else {

 

}

}

Jalan nya Alat :

  1. Ketika hujan turun sensor hujan akan mendeteksi nya kemudian buzzer akan dinyalakan sebagai tanda hujan turun.
  2. Ketika hujan turun mengakitbatkan kondisi ruangan menjadi gelap maka lampu akan secara otomatis menyala.

Alat Pendeteksi Hujan dan lampu otomatis ini bisa dikembangkan lagi dengan menggunakan kontrol, baik dengan bluetooth maupun jaringan koneksi internet atau wifi. Sehingga dimanapun kita berada, kita bisa memonitor kondisi rumah dan perkantoran.

Demikian penjelasan ringkas mengenai Cara Pembuatan Alat Pendeteksi Hujan dan Lampu Otomatis. Apabila anda membutuhkan bantuan untuk Pembuatan Alat Otomatis menggunakan Arduino baik dengan bantuan koneksi bluetooth maupun Wifi, silahkan hubungi dan klik link whatsapp dibawah ini:

 

 

Baca Juga :

Pembuatan alat otomasi dibidang perkebunan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang pertanian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang peternakan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perikanan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang kesehatan dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan alat otomasi dibidang perindustrian dengan arduino dan Internet of Things

Pembuatan Alat Penyiram Tanaman otomatis dengan Arduino dan koneksi internet dengan aplikasi android

Timbangan Bayi Digital atau Alat Otomasi Monitoring Gizi Pada Bayi

Pembuatan Alat otomasi dengan arduino untuk mahasiswa akhir

 


Rahasia Bikin Aplikasi Playstore tidak Pake Coding Seri 02

Rahasia Bikin Aplikasi Playstore tidak Pakai Coding Seri 01

ebook murah dan berkualitas. banyak diskonnya. beli segera!!!

TAS MOBIL MULTIFUNGSI

Location

Visitor

0379471
Hari ini : 253
Kemarin : 338
Bulan ini : 4435
Total Kunjungan : 379471
Who's Online : 2
error: Content is protected !!